Perjalanan mengikuti The 7th CHINA-ASEAN Expo di Nanning, Guangxi - China

a) Latar Belakang

Kegiatan eksport dan import baik yang bersumber dari produk industri, hasil hutan maupun hasil tambang lainnya yang dilaksanakan melalui Kota Balikpapan serta perkembangan investasi industri, jasa dan pariwisata masih menunjukkan trend yang fluktiatif.
Sejak awal disadari bahwa dalam jangka panjang Balikpapan tidak dapat sepenuhnya bergantung kepada Industri Migas, karena merupakan Sumber Daya Alam yang tidak terbaharui (non renewable). kita harus mencari alternatif sebagai basis ekonomi yang baru untuk jangka panjang yaitu Sektor Industri Non Migas yang mengolah bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi (manufacture) yang berbasis pada bahan baku lokal (local resource base).
Sehingga situasi fluktiatif dari kinerja eksport yang demikian serta kebutuhan akan munculnya investasi-investasi pada basis ekonomi yang baru dengan mengembangkan kawasan industri khususnya Kawasan Industri Kariangau merupakan permasalahan yang harus dicermati sehingga dapat dipastikan Kota Balikpapan masih membutuhkan banyak sekali investasi untuk membiayai kelangsungan pembangunan di segala bidang.

b) Gambaran Umum

Kegiatan China – ASEAN Expo (CAEXPO) yang merupakan pameran tahunan bertaraf internasional diselenggarakan sejak tahun 2004 dan merupakan hasil kesepakatan pada KTT China-ASEAN ke-7 pada bulan Oktober 2003 di Bali dalam kerangka kerja perdagangan ekonomi China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) yang saling menguntungkan bagi 10 (sepuluh) negara ASEAN plus China. Tahun ini diadakan bersamaan dengan Pertemuan Tingkat Tinggi China – ASEAN yang ditujukan untuk perdagangan komoditas, negosiasi investasi dan jasa. Diselenggarakan pada tanggal 20 – 24 Oktober 2010 di The Nanning International Convention and Exhibition Center, Nanning Guangxi, RRC. Propinsi ini merupakan pintu gerbang dengan negara-negara ASEAN karena berbatasan langsung dengan Asia, khususnya Vietnam. Sehingga kegiatan ini dipandang dapat menjadi sarana yang tepat sebagai media promosi untuk menggerakkan investasi sebagai maksud tersebut diatas.

c) Tujuan dan Sasaran

Adapun maksud dan tujuan dari dilakukannya perjalanan ke Nanning, China adalah dalam rangka tindak lanjut atas undangan partisipasi dari Badan Pengembangan Ekspor Nasional Departemen Perdagangan Pada China ASEAN Expo VII (CAEXPO VII) 20-24 Oktober 2010 Di Nanning Guangxi, China. Sehingga Kota Balikpapan memprogramkan untuk mempromosikan produk/jasa unggulan industri, perdagangan pariwisata serta peluang investasi penanaman modal daerah Kota Balikpapan melalui ajang The 7th China ASEAN EXPO (CAEXPO VII). Sekaligus melaksanakan study komparatif pengembangan kawasan industri yang telah berkembang di Nanning, Guangxi, China.
Sedangkan tujuannya adalah dalam rangka meraih investasi dan membuka peluang ekspor dan memberikan kesempatan terhadap produk/jasa pengusaha Kota Balikpapan untuk diperkenalkan ke mancanegara serta dalam upaya memperkenalkan potensi dan wisata daerah.

d) Perjalanan ke Nanning

Nanning merupakan Ibukota Propinsi Guangxi. Kota terbersih di China dengan penduduk lebih dari 7 juta jiwa ini memang tidaklah setenar Beijing atau Shanghai tetapi merupakan pusat bisnis dan industri yang terus berkembang, yang berperan penting dalam perkembangan ekonomi di kawasan China Selatan. Sebagai pusat bisnis, Nanning memiliki Nanning International Convention and Exhibition Center yang megah. Dengan gedung berbentuk bunga sepatu dengan luas 99.122 meter persegi ini, menjadikan Nanning sebagai tuan rumah tetap bagi penyelenggaran pameran tahunan China-ASEAN Expo. Ini adalah pameran bisnis terbesar yang diikuti perusahaan dari 10 negara anggota ASEAN dan China. Selain itu, Nanning juga menjadi penyelenggara China-ASEAN Business and Investment Summit yang ketujuh. Kontribusi dua perhelatan tersebut cukup signifikan bagi perkembangan Nanning. Banyak kontrak proyek investasi telah disepakati, baik oleh pengusaha lokal maupun dari ASEAN.
Walaupun berkembang menjadi pusat bisnis dan industri, Nanning tidak hanya dijejali gedung pencakar langit. Layaknya sebuah kota metropolitan, Nanning juga memiliki gedung-gedung pencakar langit. Saat ini, ada tujuh gedung dengan tinggi di atas 100 meter. Misalnya, Diwang International Commerce Center setinggi 276 meter yang merupakan gedung tertinggi ke-21 di China dan World Trade Commerce City setinggi 218 meter. Di samping jalan tol menuju bandara Nanning, lingkungan bukit-bukit di Nanning tampak hijau ditumbuhi oleh deretan pohon cemara. Sehingga Naning mendapat julukan Green City.
Lalu lintas di Kota Nanning cukup ramai tanpa kemacetan. Selain mobil, taksi, dan bus, moda transportasi yang cukup mendominasi jalanan adalah sepeda bertenaga listrik. Kota ini memiliki jalur pejalan kaki dengan lebar sekitar lima kali lipat trotoar di Jalan Sudirman, Balikpapan.
Sejumlah hotel berbintang lima juga terdapat di kota ini. Walaupun dirasa masih sedikit stafnya yang mampu berbahasa Inggris. Namun, Pemerintah Kota Nanning sangat total dalam melayani para tamu negara dan pebisnis yang datang ke tempat mereka. Untuk keperluan China-ASEAN Expo, ditempatkan pemandu dan koordinator yang menguasai bahasa dari masing-masing delegasi yang didukung dengan keberadaan universitas di Nanning yang memiliki program studi ASEAN dan bahasa negara-negara anggota ASEAN.
Kemakmuran Nanning terlihat dari belanja masyarakat yang terus meningkat. Data terbaru, pada tahun 2007, penjualan ritel barang konsumsi di Nanning mencapai 51,56 miliar yuan, atau meningkat 18,4% dibandingkan tahun 2006. Angka ini lebih tinggi 1,6% ketimbang rata-rata penjualan ritel nasional China.
Kemakmuran Nanning tidak terlepas dari status Propinsi Guangxi sebagai daerah otonom. Letak Nanning yang sangat strategis ikut menentukan nasib baik kota ini. Nanning berbatasan dengan Vietnam, berdekatan dengan kota industri Guangzhou, juga dekat dengan Hong Kong dan Makau, serta menghadap kawasan Asia Tenggara. Boleh dibilang, Nanning adalah pintu gerbang China ke kawasan Asia Tenggara.
Dalam Rencana Kerja Pemerintah Nanning pada tahun 2009, besar target untuk pengembangan Nanning di bidang ekonomi dan masyarakat meliputi: naik 13% dalam PDB, 18% pendapatan keuangan, 20% kenaikan dalam investasi aset tetap seluruh masyarakat, kenaikan 223% dalam output total seluruh industri; 18% kenaikan penjualan ritel barang konsumen sosial; penurunan sebesar 2% pada konsumsi energi yang digunakan untuk 10 ribu yuan PDB; penurunan sebesar 4% pada debit oksigen yang digunakan untuk kebutuhan bahan kimia dan nol peningkatan emisi belerang dioksida ; 25% kenaikan ekspor dan impor dan meningkat 15% dalam investasi asing langsung; naik 10% pada pendapatan bersih rata-rata per kapita penduduk pedesaan; sekitar 5% kenaikan tingkat total perumahan konsumsi harga; tambahan 60.000 pekerjaan di kota, kurang dari 4,5% dari tingkat pengangguran terdaftar di kota; pertumbuhan alami penduduk kurang dari 10 per seribu.

Di bidang pengembangan Proyek investasi Utama, pemerintah Nanning mencanangkan Proyek infrastruktur perkotaan dan pedesaan berupa :
1. Pengembangan Infrastruktur perkotaan
2. Pengembangan Infrastruktur Pedesaan

Di bidang project industry meliputi :
1. Kampanye dari seratus proyek industry
2. Komersialisasi dan pengembangan proyek perdagangan, dan
3. Proyek pengembangan Real estat

e) Penyelenggaraan Expo

China Asean Expo (Caexpo) ke-7 di Kota Nanning, Guang Xi, China, yang memiliki target transaksi melebihi capaian tahun lalu sebesar US$8,17 miliar dilaksanakan pada 19 hingga berakhir pada tanggal 24 Oktober 2010. Meliputi 15 gedung pamer (hall) dengan 3.360 stand di atas lahan 48.000 meter persegi. Sedangkan jumlah pengunjung dan peserta mencapai lebih dari 200.600 orang. Caexpo ini dilaksanakan setelah China melaksanakan Asean-China Free Trade Area (ACFTA) dengan tujuan Caexpo akan mempromosikan kerja sama Guangxi dengan Asean, sekaligus meningkatkan pertukaran dan kerja sama Guangxi dengan Asean di bidang politik, ekonomi dan budaya.
Pada tahun 2010 ini Sebelas kota yang dipilih sebagai kota persahabatan adalah Qingzhou (Guangxi, Tiongkok), Bandar Seri Begawan (Brunei Darussalam), Kampong Cham (Kamboja), Khammouan (Laos), Malaka (Malaysia), Mandalay (Myanmar), Zamboanga (Filipina), Singapura, Chiang Rai (Thailand), dan Da Lat (Vietnam). Indonesia yang menjadi Negara Kehormatan (Country of Honour) menempatkan Kota Solo sebagai CITY OF CHARM (Kota Persahabatan) dan dianggap layak mewakili wajah Indonesia untuk bersama-sama dengan 70 perusahaan Indonesia, terutama yang bergerak di bidang perdagangan, investasi dan jasa, mengikuti Pameran Dagang China- ASEAN (Caexpo) ketujuh yang dibuka Selasa sore di Zhijin Hall dan dihadiri oleh Wapres Boediono didampingi Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menteri BUMN Mustafa Abubakar, serta perwakilan PT Pertamina dan PLN.
Seperti halnya Negara-negara ASEAN lainnya (Malaysia, Thailand, Myanmar, Singapura, Brunei Darussalam, Kamboja, Philipina, Vietnam, Laos dan Indonesia), Indonesia menempati Hall 15 Pavilion Commodity yang memiliki luas 3.360m2. Memamerkan antara lain berbagai hasil kreativitas kerajinan tangan dari berbagai daerah, barang tekstil, furnitur, sarang burung walet, hasil pertanian dan industri pariwisata. Sementara itu para peserta dari 10 negara anggota ASEAN plus China memamerkan hasil industri alas kaki, perhiasan bebatuan, barang mesin, alat pertanian serta hasil pertanian.
UKM Indonesia pada umumnya menampilkan produk kerajinan mulai dari pakaian, mebel, makanan/minuman olahan, aksesoris, dan ukiran. Sementara negara-negara anggota ASEAN lainnya dan tuan rumah, Cina berlomba-lomba menampilkan potensi mata dagangan dan investasi mereka, menampilkan produk-produk tradisional seperti barang-barang kerajinan (dari kayu, anyaman, bambu), barang pecah belah, seni ukir, sarang burung walet dan hasil bumi seperti kopi, kakao atau kopra.
Thailand, Malaysia, Vietnam dan Kamboja tampil masing-masing dengan anjungan (paviliun) tersendiri.Malaysia antara lain menampilkan berbagai produk industri farmasi, biofuel dari jarak, makanan kemasan dan juga kursus olahraga golf, sementara Thailand tampil dengan anjungan yang bertemakan "dapur dunia" (kitchen of the world) menampilkan produk agro industri, termasuk aneka ragam makanan kemasan, juga produk tenunan local.
Kamboja, antara lain menawarkan wilayah khusus ekonomi Sihanoukville - lingkungan moderen terpadu termasuk zona industri, pemukiman, perhotelan dan rekreasi. Salah satu stan Kamboja menampilkan produk minuman keras berupa whisky atau bir sangat digemari oleh warga di negeri yang pernah dijajah Perancis itu, sementara stan lainnya menawarkan program pendidikan master yang berafiliasi dengan Universitas Norton di Inggris.
Respons masyarakat China terhadap produk batik di Indonesia sangat tinggi, peluang kerjasama terutama keinginan dari pihak pembeli untuk menjadi agen produk batik, produk hasil pertanian seperti sarang burung walet dari Indonesia cukup banyak khususnya sarang burung wallet yang memiliki harga bersaing dengan Malaysia dan Thailand tetapi untuk menindaklanjuti perlu informasi lebih mendalam karena harus mengetahui dulu karakter calon mitra dagang tersebut
Disamping itu minat masyarakat China terhadap produk furnitur Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan minat pembeli terhadap produk dari Myanmar dan Vietnam, walaupun harga jual produk dari Indonesia lebih mahal.
Kota Balikpapan sebagai salah satu kota peserta dari Indonesia selain Kota Malang, Kabupaten Bogor, Kota Cirebon, Kota Solo, Propinsi Papua Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat, Propinsi Sulawesi Barat, tampil mengisi booth bersama-sama perusahaan swasta nasional lainnya dengan dikoordinir oleh Badan Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan. Kota Balikpapan menempati booth Fashion seluas 3 x 3 m2 yang diisi bersama dengan beberapa stake holder Kota Balikpapan.
Dalam event yang pertamakali diikuti oleh Kota Balikpapan ini, ditampilkan prospek investasi di Kota Balikpapan dalam bentuk leaflet, brosur dan CD interaktif dalam bahasa Mandarin yang berisikan informasi investasi di bidang pengembangan Kawasan Industri Kariangau, pengembangan kawasan Coastal Road dan Pengembangan Kawasan Wisata Terpadu Manggar. Selain itu Kota Balikpapan yang menempati Stand Nomor D11 disemarakkan dengan menyertakan UKM menampilkan produk sandang dan kerajinan aksesories cinderamata khas Kalimantan. Berupa Baju kaos dan Batik khas Kalimantan serta kerajinan manik-manik dan beberapa produk panganan khas Balikpapan.
Selama berlangsungnya pameran, volume transaksi yang terjadi di stand Pemerintah Kota Balikpapan mencapai 10.000 yuan per hari. Dengan kurs mata uang Rp.1.400,- maka selama 6 (enam) hari pameran total transaksi mencapai 60.000 yuan (Rp.84.000.000,-). Prospek ini menunjukkan respon positif atas produk dari UKM Kota Balikpapan. Mengingat keikutsertaan UKM Kota Balikpapan pada ajang internasional kali ini adalah yang untuk pertamakalinya.

f) Peninjauan ke Kawasan Industri, Pusat Bisnis dan Perbelanjaan

Menurut data Cabis, nilai perdagangan China-ASEAN tumbuh 54,7 persen pada paruh pertama tahun 2010, atau lebih tinggi 12 persen dibanding rata-rata perdagangan luar negeri China pada periode yang sama. Ekspor China ke negara-negara anggota Perhimpunan Negara Asia Tenggara (ASEAN) itu meningkat 45,4 persen menjadi 64,6 miliar dolar AS, sedangkan impornya dari ASEAN mencapai 71,9 miliar dolar AS, atau meningkat 64 persen. China mengalami defisit 17,3 miliar dolar AS.
Pada tahun 2010 ini, lima negara mitra utama perdagangan China di ASEAN adalah Malaysia, Singapura, Thailand, Indonesia dan Filipina, dengan persentase pertumbuhan masing-masing, 67 persen, 37 persen, 54 persen, 65 persen dan 52 persen. Adapun neraca perdagangan bilateral Indonesia-China tahun 2010 sampai dengan Agustus mencapai 26,7 miliar dolar AS. Volume perdagangan bilateral tahun 2008 tercatat 22,3 miliar dolar AS, dan tahun 2009 mengalami penurunan menjadi 16,7 miliar dolar AS.
Pada forum China ASEAN Bisnis Invesment Summit ke 7 yang dilaksanakan bersamaan dengan CAEXPO ke VII ini terdapat lima proyek ditawarkan oleh Pemerintah Indonesia kepada Pemerintah China. Pemerintah berharap China menanamkan modalnya pada proyek-proyek tersebut sejalan dengan perkembangan ekonomi nasional yang makin baik. Lima proyek tersebut ialah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa Tengah dengan nilai investasi tiga miliar dollar AS, jalur kereta api bandara (Jakarta Soekarno-Hatta Railway) dengan nilai investasi 735 juta dollar AS, suplai air minum di Umbulan, Jawa Timur, senilai 204 juta dollar AS, Tol Medan-Kualanamu senilai 476 juta dollar AS, dan pelabuhan kapal pesiar di Bali dengan nilai 36 juta dollar AS. Sedangkan investasi China di Indonesia tahun 2009 tercatat 65,54 juta dolar AS, di antaranya di bidang migas, sumber daya maupun industri.
Strategi pemerintah Nanning memiliki peran penting dalam kemajuan Nanning. Pemerintah membagi kota ini dalam enam zona pembangunan alias development zone (DZ), Di kawasan ini, pemerintah mengundang investor untuk membangun pabrik. Dengan demikian, selain menyerap banyak tenaga kerja, Kawasan ini juga memberikan pemasukan pajak. Diantaranya yakni Nanning High-Tech Business DZ, Nanning Economic and Technology DZ, Nanning Overseas Chinese Investment Zone, Nanning Qingxiu Mountains Resort Tourism Area, Nanning Xiangsi Lake New Area, dan Nanning Liujing Industrial Park.
Perusahaan Indonesia juga punya peran cukup penting dalam kemajuan Nanning. Di antaranya, Sinar Mas Group yang memiliki pabrik kertas yang sudah beroperasi lima tahun. Mengekspor minyak dan CPO. Juga mendirikan pabrik mi instan. Selain itu terdapat pula perusahaan Gajah Tunggal yang menjalankan bisnis di Nanning.
Dalam kesempatan ini selain melaksanakan peninjauan lapangan ke Wanda Shopping Mall, Shopping mall terbesar di Nanning yang berada di kawasan bisnis terpadu dimana terdapat jembatan penyeberangan yang langsung terpadu dengan Xin Chao Yang Shopping Center, juga melaksanakan kunjungan ke Mingyang Industry Zone, Jiangnan District Nanning, untuk dapat menyaksikan secara langsung perkembangan zone industry tersebut dan untuk mendapatkan informasi yang dapat menjadi masukan bagi pengembangan Kawasan Industri Kariangau di Kota Balikpapan. Di kawasan ini telah berdiri beberapa industry seperti Nanning Natural Fiber Products Co., Ltd., Guangxi Mingyang Biochemistry Science & Technology Co Ltd, Guangxi Mingyang Environmental Protection Paper Matrix Products Company, Limited, Zhong Sheng Dong Tai (Nanning) Nanogene Biotechnology Co., Ltd. Dan lain sebagainya. Yang sangat menarik adalah bahwa di kawasan Mingyang Industry Zone ini terdapat sebuah perguruan tinggi bernama Guangxi Vocational and Technical College serta kantor post china dengan nama China Post. Dua buah sarana pendukung strategis yang cukup berperan penting dalam penyediaan sumber daya manusia dan sarana pengiriman barang hasil produksi barang industry.

g) Pengelolaan Obyek Pariwisata

Kalau Indonesia telah memiliki Sapta Pesona sebagai salah satu motto di sektor pariwista, China juga mengandalkan tujuh daya tarik wisata, yakni kebersihan, keindahan, ketertiban, keramah-tamahan, kenangan, keamanan dan kedamaian -- untuk menggaet wisatawan ke negeri Tirai Bambu tersebut. Sapta pesona di China dapat dirasakan di berbagai tempat, terutama di daerah-daerah wisata serta tempat-tempat pendukungnya, seperti hotel, restauran dan pusat-pusat perbelanjaan.
Dalam upaya melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya yang telah ada sejak ribuan tahun lalu, Pemerintah China memanfaatkan sektor pariwisata dengan mempromosikan tempat-tempat wisata sejarah dan budaya yang didukung dengan unsur-unsur sapta pesona wisata (tujuh unsur daya tarik wisata). Pemerintah China juga menjaga kebersihan mulai dari jalan-jalan di perkotaan dan di pedasaan yang di sisi kiri dan kanannya selalu terdapat pemandangan alam yang indah sampai ke tempat-tempat wisata yang ditata secara apik dan rapih. Sarana transportasi menuju berbagai tempat sangat mudah di dapat dan tertib sehingga memberi kenyamanan bagi para wisatawan yang hendak bepergian ke suatu tempat dengan menggunakan bus, kereta bawah tanah atau taksi.
Di Propinsi Guangxi, khususnya di Kota Nanning, Guilin dan Yang Zhuo, sebuah desa modern dengan denyut perekonomian yang dinamis dan terkenal dengan West Street yang penuh dengan toko cindera mata, yang dahulunya merupakan tempat tinggal orang Eropa. Pengelolaan obyek wisata dilakukan dalam manajemen yang tertata dengan baik. Obyek wisata penyumbang terbesar pendapatan Kota di daerah ini adalah obyek wisata gua stalagmite dan stalagtit di pegunungan kapur dan obyek wisata sungai Li. Di Guilin terdapat Elephant Trunk Hill, yaitu bukit yang menyerupai gajah lengkap dengan belalainya seolah sedang minum dari Sungai Lie. Bukit gajah ini dijadikan simbol resmi kota Guilin. Selain itu terdapat gua reed flute cave. Gua ini pernah dikunjungi oleh Henry Kissinger pada bulan Mei tahun 1979, Juga pernah dikunjungi oleh Presiden SBY pada tahun 2006. Selain itu pengembangan obyek wisata sungai seperti yang dilakukan di sepanjang sungai Li (Lijiang). Dengan penataan sungainya yang dibuat bendungan, kanal dan teknik pencahayaan serta pertunjukan di Lijiang Landscape Theater berupa drama kolosal “Liu San Jie” yang sangat memukau hati dengan panggung di atas Sungai Lie berlatar belakang 12 bukit, hasil karya Zhang Yi Mou (perancang acara pembukaan Olymiade 2008 Beijing yang dimainkan dengan 600 penari yang spektakuler, dan music tradisional membuat Sungai Li memiliki nilai jual kepariwisataan yang mampu menyedot pengunjung setidaknya 1.000.000 juta orang dalam setahunnya. Pemerintah Guilin dalam rangka menjadikan daerah dengan luas 27.809 kilometer persegi ini sebagai salah satu tujuan wisata, memang tidak tanggung-tanggung. Sepanjang jalan utama, taman-taman kota, sungai, jembatan, serta 4 danau yang mengelilingi kota Guilin, yakni Guihu, Ronghu, Shanhu, dan Mulong – dihiasi lampu-lampu putih terang dan warna-warni dengan berbagai bentuk, seperti: bunga, palem, buah, ikan, dan sebagainya. Pagoda yang ada di tengah danau, istana, dan pepohonan di pinggiran danau, hingga bukit-bukit yang ada di tengah kota pun tidak luput dari siraman cahaya. Saat ini di kota Guilin terdapat 28 hotel berbintang, 18 biro perjalanan internasional, dan lebih seribu pemandu wisata bahasa asing. Selama beberapa tahun ini, lingkungan pariwisata di kota Gulin terus diperbaiki. Sekarang 40 rute penerbangan menghubungkan kota Guilin dengan kota-kota besar lain di dalam dan luar negeri.

Selengkapnya.....

Wisata Kuliner di Balikpapan

Saat ini sering ada berita tentang selera makan orang Indonesia yang mulai aneh-aneh. Bayangkan kita disuguhi makanan Mie Goreng dari hasil daur ulang Mie Instan kadaluarsa yang sudah banyak jamurnya, disiram saos kadaluarsa yang diencerkan lagi dengan air mentah diambil dari kali dan dengan lauk Ayam Goreng Tiren (mati kemaren - alias bangkai) dicampur gorengan daging sapi glonggongan yang dikumpulkan dari tempat sampah yang asalnya sudah diawetkan dengan Formalin, dimasak dengan minyak goreng bekas dicampur plastik. Ditambah sedikit sayur yang dipanen dari ladang yang dirawat dengan pestisida dan diisajikan diatas piring melamin murah asal china. Minumnya? susu ber formalin murah dari China.
Langsung mules? ah, nggak juga. Sudah bertahun-tahun kok, kita menjalani ini.
Hebatnya orang-orang yang menjadi pelaku seperti itu aman-aman saja berkeliaran mencari mangsa baru. Apes-apesnya paling ketangkap dan dibina. ya, tiga bulan kurungan, setelah itu bebas lagi kok. terserah mau berbuat apa.
Kita kan orang timur, kasihan banyak orang kita yang masih dibawah ambang sejahtera.
Nah, lepas dari plastik formalin goreng rasa strawberry, kalau sempat berkunjung ke Balikpapan, ada beberapa tempat wisata kuliner di Balikpapan yang aneh-aneh pula. Menunya :
  • Rawon Setan
  • Ayam Goreng Perawan Desa
  • Ikan Goreng Kawin Lari
  • Lontong Pocong
  • Soto Sembarang
  • Nasi Goreng Bakar Bertekanan
Tertarik ?
Berikut gambar dan alamatnya :

Rawonnya Setan, Ayam Perawan Desa yang digoreng, Ikan Goreng Hasil Kawin Lari dan Lontongnya Pocong
Jl. Soekarno-Hatta km.10 Kel. Karang Joang Balikpapan

 
Terserah ... Sembarangan makan Soto
Jl.Sungai Ampal - Balikpapan 
  
Dipaksa makan Nasi Goreng kebakaran
Jl. MT. Haryono - Kel. Gunung Bahagia Balikpapan

Selengkapnya.....

My journey to Batam - Singapore

Kota Batam

Untuk yang kedua kalinya aku dapat kesempatan menjejakkan kaki ke Kota Batam. Pada tanggal 6 Mei 2008 dengan menggunakan pesawat Lion Air aku tiba di Batam pada pukul 17.00 WIB setelah terbang dari Balikpapan dan transit di Jakarta. Dengan menggunakan taxi bandara yang ongkosnya 70.000 rupiah, kami minta diantarkan ke Hotel Bahari di Nagoya yang tarifnya 185.000 Rupiah semalam dan kami memutuskan untuk menginap disitu semalam. Kami sadar kalo daerah Nagoya juga sering disebut-sebut daerah untuk dugem, esoknya kami pindah di Penginapan Pusat Informasi Haji (PPIH) yang fasilitasnya lebih baik dengan tarif 240.000 Rupiah semalam. Kami diberi kamar di lantai 4 dengan view ke arah Barat yang pemandangannya cukup menarik terutama di malam hari yaitu Mesjid Agung dan Kantor Pemko Batam.

Berbeda dengan kebanyakan kota-kota di Indonesia, Batam memang unik. Kota ini mencakup beberapa pulau, sehingga sebutan daerah ini pun bertambah menjadi Barelang. Kependekan dari Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang, yang sekarang dihubungkan dengan jembatan-jembatan. Sungguh sebuah pemandangan yang indah ketika melintasi jembatan-jembatan itu. (Dan ini sangat kontras dengan keinginan warga Balikpapan-Penajam Paser Utara yang berharap daerahnya bisa terhubung dengan jembatan yang katanya akan melintasi Pulau Balang di Teluk Balikpapan.)


Di ujung Pulau Galang yang jauhnya sekitar 60km perjalanan dari pusat kota Batam, terdapat bekas-bekas Camp pengungsi Vietnam yang lari dari konflik di negaranya dimasa lalu. Tempat itu pun kini menjadi obyek wisata, sudah ditinggal penghninya pulang ke Vietnam. Sedangkan Kuilnya Quan Am Tu masih digunakan hingga saat ini dan menjadi Barang Milik Negara.

Keunikan yang lain adalah jenis kendaraan yang lalu-lalang di jalanan. Menurut supir taxi yang kami tumpangi, kebanyakan kendaraan di Batam adalah ex Singapura atau sebut saja limbah. Limbah kendaraan bermotor ini kondisinya sewaktu masuk ke Indonesia masih "baik" dalam ukuran orang kita. Sehingga model dan jenis kendaraannya menjadi tidak umum seperti kebanyakan kendaraan bermotor di Indonesia pada umumnya. Ada sedan dengan merk Rover, Subaru dan model-model dari merk terkenal namun tidak beredar di Indonesia. Saking mudahnya untuk mendapatkan kendaraan second tahun 1997 keatas, kelihatannya membuat warga Batam malas untuk memelihara kendaraannya. Walhasil kendaraan yang lalu lalang rata-rata terlihat kusam dan jorok karena tak pernah dirawat.

Kini untuk mendapatkan mobil second impor dari Singapura sudah tidak mudah. Pemerintah Indonesia melarangnya. Sehingga mobil-mobil itu masuk ke Indonesia dalam bentuk "scrap" alias peretelan. Jadi spare-part second, yang katanya kondisinya malah rata-rata lebih bagus ketimbang spare-part baru tapi kualitas K2 atau K3 buatan Taiwan dan Korea.

Menikmati pemandangan di Kota Batam rupanya juga merupakan keasyikan tersendiri. Jalanan yang rata-rata lebar dengan tepi jalan yang cukup untuk ruang pejalan kaki dan daerah hijau, menunjukkan adanya perencanaan penataan kota yang baik. Jejak peran Badan Otorita Batam dalam penataan kota rupanya sangat terasa. Plazanya jauh lebih banyak dari Plaza yang ada di Kota Balikpapan. Uniknya disini terdapat sebuah komplek shopping center yang namanya Samarinda Shopping Center.

Pilihan menginap di PPIH ternyata membuat kami harus menerima konsekwensi sulitnya cari makan di luar penginapan, khususnya di malam hari. Hanya ada satu warung masakan seafood yang ada di tepi jalan dekat penginapan. Lain dari itu pilihannya kami harus ke Batam Mall Center yang jaraknya sekitar 300 meter dari penginapan. Di lantai II Mall ini terdapat beberapa tempat makan. Kami ternyata hanya tertarik pada menu masakan Sop Tulang yang ada di depot Rumah Makan Minang yang ada disitu. Dan itulah menu makan kami setiap malam selama 4 hari!

Pilihan lain barulah kami peroleh setelah sempat jalan-jalan keliling kota. Ketemu tempat makan di dekat daerah Bukit Senyum. Rumah Makan Pondok Batam Kuring namanya. Tempatnya asyik dengan penataan yang terkesan alami.

Singapura di Depan Mata

Setelah hari keempat tanggal 10 Mei 2008, dengan mengikuti rombongan, aku dapat kesempatan "nyeberang" ke Singapore melalui International Ferry Terminal Batam Center. Karena ini adalah 0ne day visit, Pagi-pagi pukul 06.30 wib sudah harus kumpul di Pelabuhan. Semua diurus pagi itu juga, Fiskal laut untuk ke Singapura besarnya 500.000 rupiah, ticket ferry Batam Fast beayanya 180.000 rupiah. Selesai urusan itu, sambil menunggu waktu keberangkatan jam 07.00 wib, kusempatkan sarapan disalah satu kantin yang tersedia. Ternyata disini juga ada bubur. Sebut saja bubur Batam. tastenya sebenarnya mirip - mirp bubur Bandung. Lumayanlah buat menghangatkan perut yang masih kosong. Apalagi nanti lamanya perjalanan dengan ferry makan waktu 1 jam.
Tiba di pelabuhan Ferry Harbourfront Singapore Cruise Center sekitar pukul 08.00 wib atau jam 09.00 waktu Singapore, sama dengan waktu di Indonesia Tengah. Letaknya di hadapan Sentosa Island. Pemandangannya pun sudah indah dengan bentangan cable way dari Mount Faber & Cable Car Station hingga ke Sentosa Island. Sayang one day visit tak cukup waktu untuk menikmati itu. Di pelabuhan ini kita sudah harus siapkan segalanya, Pasport, mungkin KTP dan... mental. Ya, mental kita sudah diuji pada saat pemeriksaan pasport. Tampang kriminal, norak, kampungan bakal lama urusannya, apalagi kalau sudah disangka TKI. Petugas yang kutemui disini adalah seorang perempuan keturunan India. Belum apa-apa sudah tidak percaya dengan KTP berwarna biru yang kusodorkan. "Berapa lama kamu di Singapore?" syet, dah, kamu.. kamu.. gak sopan banget nih India. "Ini KTP Indonesia? Kenapa tidak kuning?" (sambil menunjuk bagian atas KTP, maksudnya kenapa tidak seperti kebanyakan KTP di Indonesia yang bagian atasnya di blok dengan warna kuning). "Itu KTP Balikpapan", jawabku. Bolak-balik KTP itu dipelototi sambil ngecek foto yang ada disitu. Memang saat itu aku tidak bawa apa-apa, backpack pun tidak, malah kakipun cuma pakai sandal saja. Selesai dengan urusan si India gombal itu, lalu dengan mengikuti rombongan menuju ke counter money changer, tukar uang, disini nilai 1 dollar Singapore = 6.800 rupiah. Ternyata lebih murah kalau tukar di Batam, 1 dollar = 6.720 rupiah. Lumayan selisih 80 rupiah apalagi kalau dikali 1juta.

Perjalanan wisata di Singapore bagi pelancong dan turis "nyebrangan" secara kagetan memang sebaiknya mengandalkan jasa travel wisata. Biaya yang harus dikeluarkan lebih terukur, kecuali kalau sudah punya pengalaman dan ngerti route. Rombongan kami yang jumlahnya 12 orang menggunakan jasa turis, pakai 2 mobil. Secara patungan aku bayar 26 dollar Singapore untuk paket wisata sehari. Route yang dilalui antara lain Patung Singa Marlion di Tanjong Pagar, lalu ke Raffles Place tempat si raffles berdiri dengan angkuhnya, disini kita bisa lihat suasana muara sungai tempat Raffles mendarat di Singapura. Tempatnya mengingatkanku pada kampung halaman, terutama kawasan Jembatan Manggar Balikpapan. Sungguh indah seandainya bisa ditata seperti Raffles Place ini. Banyak burung-burung bebas berterbangan tanpa rasa takut terhadap orang-orang yang lalu lalang. Setidaknya ada terlihat sejenis burung kutilang, gagak dan cucak rawa. Disekitar Tanjong Pagar ini pula terdapat terowongan kecil tempat pejalan kaki melintasi jalan raya. Persis seperti terowongan yang ada di Terminal Bis Batu Ampar Balikpapan, melintasi terminal menuju perumahan Batu Ampar Lestari yang sayangnya tidak terurus.

Perjalanan dilanjutkan menuju Mustafa Center, tempat yang sering direkomendasikan di banyak situs sebagai surga belanja termurah di Singapura. Murah? kalau dibanding dengan harga barang-barang sejenis di Nagoya Batam sepertinya berimbang saja. Mungkin malah lebih murah di Glodok Jakarta. Lepas dari situ sudah jam 12.30 waktunya pergi ke rumah makan Minang yang terletak di Muscat Road, Malay Village, dekat sebuah mesjid, sayang aku lupa namanya. Satu prosi makanan khas Padang disini rata-rata 4 dollar, lumayan sedap apalagi kalau sedang lapar dan sudah ikut antrian yang kebanyakan orang-orang Malaysia dan Indonesia.

Selesai makan kemudian menuju ke Little China, disini ada parfum yang di pasaran Indonesia seharga 400.000 rupiah dijual hanya seharga 200.000 rupiah. Penjualnya keturunan India dan ngakunya mau pindah usaha ke Indonesia.

Selanjutnya kami ke Kampung Bugis. Tetapi jangan berharap bertemu dengan saudagar Bugis. Tetap saja pedagangnya kebanyakan keturunan India dan keturunan China. Kita bicara dengan mereka dalam bahasa Inggris. Ah. itu juga nggak perlu, yang penting bisa ngomong "How Much?" dan bisa ngitung konversi dollar Singapore ke Rupiah sudah cukup, kok. Disini aku ketemu Becak Singapore. Canggih, mengkilap, pakai Sound System dengan MP4 Player dan Portable Game SP2. Drivernya keturunan China masih muda telinganya bertindik dan pakai badge pengenal.

Hari sudah sore ketika aku sampai di Orchard Road, tempat yang sangat sering disebut-sebut oleh orang-orang kita yang sudah pernah kesana. Terbengong-bengong di Lucky Plaza hingga ke Tang Plaza hanya menyaksikan orang-orang hilir mudik. Mungkin sama saja dengan Sogo di Jakarta, begitulah. Akhirnya nyelonong ke belakang Plaza, eh, malah ketemu Mount Elizabeth Hospital. Ini dia tempatnya yang sering disebut-sebut dalam koran sebagai tempat bagi kebanyakan Pejabat Indonesia berobat. Seru juga ternyata, sambil berobat, belanjanya tinggal jalan kaki saja. Apalagi kalau pejabatnya pergi berobat sambil bawa .. eh, diantar sanak family.

Sebelum kembali ke Singapore Cruise Centre, kami mampir dulu di Temasek Boulevard, menyaksikan air mancur ditengah Suntec Tower yang jumlahnya ada lima tower. Sebuah kawasan yang memberikan sensasi berbeda.


Satu hari perjalanan ternyata benar-benar hanya cukup buat observasi doang. Memang paling baik bila kita sediakan waktu (dan uang) yang cukup untuk merasakan lebih jauh seperti apa sebenarnya negeri wisata seperti Singapore ini. Sambil terapung-apung kembali ke Batam pada jam 19.30 waktu Singapore, aku berkesimpulan bahwa sebenarnya tidak banyak bedanya dengan Batam. Kedua tempat itu sama-sama diisi dengan jenis-jenis mobil mewah.

Kalau di Singapore diisi dengan mobil seri keluaran baru, Batam diisi dengan mobil seri keluaran lama bekas orang singapore... Sama-sama bisa makan di pinggir jalan, bedanya Singapore bebas debu, Batam makan debu. Jalanan sama-sama lebar, cuma beda di marka jalan doang. Batam jarang ada marka jalannya! Saran nih, kalau habis pulang dari Singapore dan singgah di Batam, jangan bandingkan kedua tempat ini.






Selengkapnya.....

A Trip To Tanah Grogot - Kabupaten Paser

Akhirnya saya dapat kesempatan juga untuk mengunjungi Kota Tanah Grogot di Kabupaten Paser - Kalimantan Timur. Sebuah kesempatan yang benar-benar bagus. Walaupun kelihatannya itu tidak berhubungan dengan tugas-tugas keseharian, tetapi perjalanan kesana sesungguhnya adalah pengalaman yang sangat baik bagi saya.

Jalan Berlubang Sepanjang Jalan

Menikmati perjalanan mulai dari setibanya di Pelabuhan penyeberangan Ferry di Kabupaten Penajam Paser Utara sampai dengan pertigaan Kuaro rupanya tidak bisa sesantai seperti kalau kita menikmati perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda. Banyak lubang-lubang dan amblesan sepanjang jalan yang harus diperhatikan. Kecepatan kendaraan memang bisa dipacu sampai dengan 120km/jam tetapi itu berarti shockbreaker dan roda harus bekerja ekstra keras menerima kenyataan lubang-lubang yang menganga tanpa rambu-rambu. Ini mengingatkan saya ketika melakukan perjalanan ke Kota Banjarmasin pada tahun 2000 lalu dengan menggunakan kendaraan umum bis antar propinsi. Tidak ada perubaha yang sangat berarti dari kondisi jalan yang tidak rata dan berlubang itu, kecuali pemandangan yang saat ini penuh dengan baliho calon-calon Gubernur Kalimantan Timur dan calon Bupati Penajam Paser Utara.

Kota Yang Bersolek

Karena sedang mengadakan perhelatan tingkat Propinsi, Tanah Grogot mempercantik diri. Ruas jalan rata-rata terlihat bersih. Semua dicat dengan nuansa hijau putih, yang menurut pandangan saya, kota ini malah menjadi kelihatan lebih menarik daripada Kota Tenggarong - ibukota Kutai Kartanegara yang ngakunya si Kabupaten terkaya itu. Kontur daerah yang kebanyakan rata membuat masih banyak orang yang mau menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi di Kota ini. angkutan umum sama seperti di kota-kota yang ada di Kalimantan Timur pada umumnya, menggunakan kendaraan jenis station wagon dan ada pula kendaraan angkutan umum sejenis bemo. Ini jenis kendaraan yang baru saja didatangkan dan satu-satunya kota di Kaltim yang memilih bemo sebagai alat transportasi bagi warganya.


Sungai Kandilo

Inilah Sungai Kandilo. Disinilah awal semua aktivitas dimasa lalu dilakukan. Kerajaan Paser juga berada di tepi Sungai ini tepatnya di Paser Balengkong. Begitu pula jejak-jejak masuknya Armada Portugis ke alur Sungai ini nampak dari peninggalan Canon yang kemudian jadi salah satu peninggalan sejarah di Kabupaten ini. Disini pula sentra pedagang makanan berada, berjajar sepanjang tepi Sungai Kandilo yang sayangnya ditata dengan cara membelakangi sungai sehingga mengurangi keindahannya. Saya mendapati semua stand penjual makanan disitu adalah pendatang. Dan tenyata sampai saat kepulangan, tidak ada makanan khas di daerah ini. Hanya Madu Paser yang sempat dibeli seharga Rp.60.000,- seukuran sebotol sirup.


Plaza

Disini juga ada Plaza. Plaza Kandilo namanya. Letaknya juga berada di dekat tepian Sungai Kandilo. Dibanding Kota Tenggarong yang hingga kini belum punya plaza, keberadaan Plaza dengan tiga lantai ini tentu saja membuat Kabupaten Paser jadi kelihatan "sedikit lebih maju". Kebanyakan barang yang diperdagangkan adalah dari jenis barang-barang elektronik dan barang kelontongan selain juga terdapat berbagai macam sandang. Sayangnya penataan kelompok pedagangnya masih kurang strategis. Barang-barang elektronik dan kelontongan ditempatkan di lantai 1 sedangkan pedagang pakaian di lantai 2. Itupun ternyata masih bercampur aduk antara pedagang Handphone, Buah-buahan, kelontongan, sembako dan pakaian. Bisa jadi itu menjadi penyebab kenapa di lantai 3 hingga kini masih kosong tidak diisi oleh pedagang lainnya.

Masjid Agung Nurul Falah

Kelebihan lain dari Kabupaten Paser ternyata tempat ibadahnya. Mesjid yang megah dan indah. Sebuah pilihan pembangunan sarana yang tepat untuk masyarakat Kabupaten Paser yag punya semboyan "Paser Buen Kesong - artinya Paser Berhati Baik" ini. Sayang kesucian Mesjid Agung Nurul Falah ini sedikit ternoda dengan ulah oknum yang tidak bertanggung jawab. Kawan saya kehilangan sepatu disitu. Rupanya sepatunya sangat menarik perhatian ouknum itu. Relakan sajalah.


Selengkapnya.....

Jabat Tangan Dengan SBY (apa hebatnya?)

Karena urusan tugaslah akhirnya aku harus menginjakkan kaki di Peninsula Island. Kedengarannya sebuah pulau asing di negeri entah dimana. Nyatanya itu hanyalah sebuah "gundukan kecil berkarang yang sedikit lebih besar dari Pulau Tukung di dekat Pelabuhan Semayang Balikpapan tetapi lebih kecil dari gundukan endapan lumpur di tengah alur Sungai Mahakam yang dinamai Pulau Kumala". Kalau dalam bahasa resmi kita namanya Pulau Besar di Nusa Dua-Bali (lihat monumet at nusa dua - Google Earth).
Kelihatannya keren. Dengan alasan menjadi penggembira pada parallel event di Conference of Parties 13 (COP-13) UNFCCC 2007 (atau sebut saja konvensi perubahan iklim) aku berada di suatu lingkungan elit yang didekatnya ada Hotel dengan tarif semalam yang sanggup buat nyicil mobil baru. Tetapi sesungguhnya yang terjadi tidak seperti yang mungkin terbayangkan. Untuk bisa masuk ke Nusa Dua saja "

setidaknya kita harus melalui pos pemeriksaan yang luar biasa, yang menurutku standar pemeriksaannya sedikit membuat rasa kebangsaanku tersinggung. Bagasi diperiksa, pintu dibuka, kolong mobil dikamera, akibatnya antrian memanjang. Ngalah-ngalahin kalo mau masuk plaza yang habis kena ancaman bom.



Mungkin prosedur ini hanya akibat penyelenggaraan UNFCCC saja. Paranoid karena bom bali? bisa jadi.
Lantas untuk bisa masuk ke Pulau Besar para tamu harus memakai wristband, semacam tanda pengenal dengan barcode yang dipasang melingkar di lengan. Beruntung aku dapat ID Card, jadi nggak perlu beli wristband harian yang harganya Rp.15.000,- atau wristband terusan yang harganya Rp.75.000,-
You see, this is my country. Tapi kudu bayar untuk nginjakkan kaki di tanah sendiri.
Urusan nginap lain lagi. Rakyat jelata dengan penghasilan seperti aku mana sanggup bayar hotel di Nusa Dua. Akhirnya aku pilih nginap bareng turis-turis kere di daerah Legian. Itu berarti setengah jam perjalanan bermobil ke tempat kegiatan. Maka setiap hari kalau aku berangkat dari penginapan menuju lokasi pasti melewati tempat yang dulu di bom sama Amrozi (masih hidup kok tuh orang....). Terima kasih Amrozi, karena obyek wisata di Bali bertambah lagi.





Kalau malam, di sekitar Legian masih mudah ketemu diskotek atau bar terbuka kelihatan dari tengah jalan yang penuh dengan bule joget. Bila larut malam di beberapa lorong-lorong gangnya sejumlah bule duduk dengan "guide" sampai pagi. Mungkin ini memang turis kelas kere.

OK. Back to topic.
Namanya saja Climate Change Conference. Jadi Cool Energy Exhibitionnya diset diruang terbuka dengan tenda tanpa AC !! Aku bukan bule-bule yang kulitnya berwarna - warni (bisa putih pucat kalo takut, bisa merah kalo marah, bisa biru kalo dibenjolin, bisa coklat karena kejemur, bisa abu-abu....) kulitku asli coklat seperti kebanyakan bangsa indonesia yang sehari-hari naik sepeda motor kepanasan. Walhasil, tambah gelaplah aku setelah seminggu barurusan dengan pulau tak berangin itu. Sumpah, acara itu tak seperti yang kubayangkan. Tidak ada delegasi negara lain yang nyelonong kesitu, Yang muncul cuma orang-orang penting lokalan. Termasuk Presidenku SBY.
Berhasil mem-foto beliau? seorang kawan bersusah payah untuk itu :



Salaman? kenapa tidak. Sekejap mucul perasaan betapa ternyata sangat mudahnya bersalaman dengan Presiden Republik ini. Terasa sedikit kasar telapak tangannya waktu kujabat. Mungkin dulu pernah pegang cangkul. Senyumnya masih kalah lebar dibandingkan dengan The Smiling General (Do'aku untuk beliau). Tapi senyumnya itu hangat. Aku merasa bahwa Presiden ini dekat dengan rakyatnya bila dibandingkan dengan The Smiling General. Setidaknya karena dulu dalam acara yang sejenis sekitar tahun 1995 aku pernah berada dalam jarak 10 meter dari The Smiling General dan belakangan setelah diberitahu teman, aku harus terima fakta bahwa aku ditempel terus oleh seorang intel. Mungkin karena tampangku yang konyol.
Tapi esoknya pikiranku terhadap Presiden itu berubah. Setelah sadar bahwa untuk bisa salaman, aku ternyata berada di tempat yang steril, sistem pengamanan yang berlapis, publik yang terkontrol..... Dan bule-bule yang nyelonong masuk ke lokasi acara (walau dia pake wristband) tetapi cuma pake CD doang!! well, you know ini tempat dimana patung disarungin, orang ditelanjangin.
Di hari-hari terakhir acara aku masih sempatkan untuk ber-turis ria ke pusat-pusat souvenir. Bangsa kita memang kreatif. Tanda ekonomi masyarakat terus bergeliat menyongsong Visit Indonesia Year 2008. Banyak cinderamata dan kerajinan yang dibuat. Ada yang unik, antik, cita rasa tinggi dan nyeleneh....


Barang legal yang dijual diseluruh pelosok bali. Selegal itu pula foto ini terpasang.
Sebuah kesan tersendiri dari perjalananku kali ini.
Seperti juga kesan seorang bule yang pernah singgah ke Bali....
check this out :
http://www.youtube.com/watch?v=q4j0Hg8eFsc

Begitu pula sampai hari ini rasa jabat tangan itu masih meninggalkan kesan. Mungkin kesan yang terus tersimpan sampai nanti saat masuk bilik TPS. Entahlah.

Selengkapnya.....