Somebody Has Modified Their Rides In Priceless






Twin Engine



Selengkapnya.....

Crowd Parking Management At The Plaza Balikpapan

Gak taulah kalau cara penulisannya salah.
Bermula dari kisah malam mingguan bersama keluarga, tadi malam jam 19.00 bersama seluruh keluarga aku pergi berkunjung ke dokter keluarga. Tidak seperti biasanya, asisten dokter alias tukang daftar, belum ada, apalagi dokternya. Acara ke dokter batal.
Akhirnya, diputuskan kami langsung saja ke The Plaza Balikpapan. Window Shopping ceritanya. Karena Lantai Basement dan Lantai I sudah penuh dengan kendaraan. Dapat parkir di Lantai II.
Kelar keliling dalam Plaza, jam 21.30 kami kembali menuju tempat parkir mobil. Disitu suara klakson mobil sudah bersahut-sahutan. Hanya dalam hitungan beberapa menit, saya sudah terjebak dalam antrian kendaraan yang hendak turun dan keluar dari gedung parkir The Plaza Balikpapan.
Hingga Jam 22.30 kami masih dalam antrian di gedung sontoloyo itu.

Sungguh gak habis pikir. Seperti juga sistem parkir di Bandara Sepinggan, Plaza Rapak maupun Hotel Novotel Balikpapan, begitu pula The Plaza Balikpapan, semua dikelola oleh Sun Parking.
Malam itu semua lokasi parkir kendaraan roda empat di The Plaza penuh dengan kendaraan. Dan Sun Parking hanya mengoperasikan 2 loket pembayaran parkir ! itupun palang pintunya macet ! Damn.... Damn Sun Parking !
Way out dari The Palza pun cuma bisa dilalui oleh mobil secara satu-persatu. Saya tidak paham dengan jalan pikiran manajemen Sun Parking disitu. Tapi nampaknya harus ada perubahan.
Jam 23.00 barulah saya sekeluarga bisa keluar dari cengkeraman manajemen parkir Sun Parking di The Plaza Balikpapan.
Ini seperti melengkapi sontoloyonya kapitalisme sistem perparkiran Sun Parking di Balikpapan. Sepertinya tidak cukup dengan model Hotel yang parkirnya diatur oleh mereka, lalu tata cara pengelolaan parkir menginap di Bandara yang terbilang aneh. Dan pengelolaan parkir di Plaza Rapak yang semaunya.
Sungguh menjengkelkan.

Selengkapnya.....

Antara Bus, BBG dan Industri Sepeda Motor di Indonesia


Kalau lihat Bus yang digunakan TransJakarta ini, seharusnya bolehlah kita berbangga hati. Ternyata Bangsa kita juga punya kehebatan dalam industri manufacturing otomotif. Apalagi untuk keperluan public transportation dengan bahan bakar gas.
Tapi, pernahkah Anda perhatikan kepadatan traffic light di perempatan-perempatan di Jakarta? Begitu lampu hijau menyala, ratusan sepeda motor berhamburan dipacu melewati jalanan bak gerombolan kambing yang baru saja dilepas dari kandang dalam keadaan kelaparan (untungnya kaki belakangnya tidak nendang kesana kemari). Di Negeri yang sudah disebut-sebut sebagai negeri sepeda motor ini, public transportation yang nyaman memang sudah sangat dibutuhkan. Dengan harapan masyarakat dapat bepergian, dan travelling dari satu tempat ke tempat yang lain maupun dari satu kota ke kota yang lain dengan perasaan aman dan nyaman.

Tetapi itu saja nampaknya tidak cukup. Industri sepeda motor di Indonesia yang sudah seperti industri consumer goods pada umumnya. Banyak model, desain, dan feature motor yang ditawarkan. Industri sepeda motor di Indonesia sudah mirip-mirip industri Handphone. Belinya boleh kredit, harga barangnya cepat turun, kalau mau digunakan cukup dengan menyampaikan identitas KTP untuk registrasi, sisanya sistem administrasi yang melakukan penyelesaiannya. Coba kita lihat, untuk menggunakan HP, Anda hanya membutuhkan Identitas diri seperti KTP untuk registrasi ke salah satu provider GSM atau CDMA yang ada di Indonesia. Setelah itu silahkan gunakan HP Anda. Kalau habis pulsanya, silahkan beli pulsa di counter terdekat. Kalau sepeda motor, Anda cukup serahkan copy KTP di loket pembuatan SIM, sisanya ikuti saja administrasinya, SIM Anda sudah tersedia. Silahkan gunakan sepeda motor Anda, kalau bensin habis, beli saja di SPBU terdekat.
Sesungguhnya yang dibutuhkan Indonesia itu adalah regulasi kendaraan bermotor dengan tahap-tahap sebagai berikut :
  1. Perketat syarat-syarat untuk memperoleh SIM, itu bisa saja dengan cara meningkatkan kualitas ujian SIM. Sanksi pelanggaran yang tegas seperti pembatalan SIM, penundaan pemberian SIM, larangan seumur hidup memperoleh SIM.
  2. Penyempurnaan standar sistem KIR/uji kendaraan bermotor khususnya kendaraan umum.
  3. Penyediaan moda transportasi umum dengan standar baku dan tegas.
  4. Perbaikan jaringan jalan, pelabuhan, stasiun, terminal dan bandara secara menyeluruh dengan pedoman standar pelayanan transportasi publik yang tegas.
  5. Perketat syarat-syarat kepemilikan kendaraan bermotor, khususnya roda dua. Misalnya harus sudah punya SIM sebelum punya sepeda motor.
Mungkin tidak segampang itu mengatur transportasi di Indonesia. Sama seperti tidak gampangnya memahami sejauh apa implementasi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Mungkin begini, biar saja BUMN dan industri manufacturing kendaraan bermotor itu berinovasi seluas-luasnya, biar saja kebutuhan Bahan Bakar baik BBM maupun BBG beradu kuat dengan harga, sisanya silahkan pantau daya dukung masyarakat untuk beradaptasi dengannya. Tidak perlu regulasi.

Selengkapnya.....

Trans Jogja - New Public Transportation at Jogja

Ada yang baru di Jogja.

Public Transportation-nya sudah meniru seperti Busway di Jakarta. Namanya pun mirip : Trans Jogja. Bedanya adalah Trans Jogja tidak menggunakan jalur/route secara eksklusif seperti di Jakarta. Bus dengan cat berwarna hijau-kuning yang digunakan seukuran metromini dengan kapasitas penumpang duduk 20 orang berdiri 20 orang. Haltenya ikut-ikutan mini dan kebanyakan berdiri diatas trotoar.


Dengan ongkos Rp.3.000,- Route yang dilalui sebenarnya sangat memudahkan kita untuk mencapai obyek-obyek wisata yang ada di Jogja. Kita bisa transit di halte-haltenya mengikuti route yang tersedia. Sayangnya jarak antar bus masih 15 menit. Agak lumayan bengong nunggu di halte. Jumlah halte di beberapa titik juga masih ada yang dirasa jauh dari tujuan. Tetapi itu gak masalah. Toh, menurut saya semua titik di Jogja adalah obyek wisata itu sendiri.
Sungguh beruntung masyarakat Jogja yang punya pemerintah mau memikirkan public transportation seperti ini. Jogja yang begitu padat penduduknya, tak perlu disesaki dengan jumlah angkot yang terlalu banyak dengan jumlah penumpang yang terlalu sedikit, seperti di Balikpapan (mengeluh). Balikpapanku yang unik malah menyediakan angkot yang disebut Taxi oleh masyarakatnya dengan jumlah yang melimpah ruah. Sehingga jalan-jalan disesaki dengan angkot yang parkir semaunya, menggunakan jalan seenaknya dan dengan jumlah penumpang yang sangat sedikit.



Selengkapnya.....

Aku dan Blue Bird Taxi : Sebuah Pengalaman Yang Tercecer

Banyak orang menjadi sangat pemilih ketika harus menumpang taxi, khususnya di Ibukota Indonesia, Jakarta. Rekomendasi dan nasehat yang paling umum diberikan orang adalah ajakan untuk memilih taxi Blue Bird (Group) saja. Walaupun sebenarnya pilihan taxi di Jakarta sangat banyak, bahkan tidak sedikit taxi yang merayu calon penumpangnya dengan tulisan "Tarif Lama" atau "Tarif Bawah".

Belakangan ini sangat banyak Taxi Jakarta yang memilih warna cat bodi mirip dengan Blue Bird. Bahkan logonya pun dibuat mirip-mirip dengan logo kelompok Blue Bird. Rupanya Sampai-sampai Taxi dari kelompok perusahaan lainnya harus kehilangan kepercayaan diri. Sebegitu hebatnya Blue Bird saat ini sedang menjadi ikon untuk layanan taxi yang terpercaya. Layanan yang bertanggung jawab, pasti dan nggak bakal ngibuli penumpangnya. Benarkah?
Kali terakhir perjalananku naik taxi biru ini ternyata mendapati pengalaman serupa dari cara menyapa supir taxinya. yaitu pertanyaan : "Lewat mana, Pak?", "Lewat toll, Pak? jalur kearah sana sedang macet", atau "Maaf, Pak, saya baru seminggu...."
Jika Anda mendapati pertanyaaan serupa itu setelah Anda duduk membanting pintu Taxi dan membertahukan tujuan Anda, bersiaplah untuk mengeluarkan ongkos taxi lebih mahal dari seharusnya.... atau bayar saja cancelation fee nya. Terkecuali Anda sudah hapal diluar kepala jalur-jalur yang seharusnya ditempuh. Sehingga mampu beradu argumentasi dengan supir taxi Blue Bird itu. Dan itu melelahkan.

Mungkin ini pengalaman yang sangat subyektif. tetapi tidak seharusnya terjadi dan terulang dalam beberapa kali kunjungan dengan waktu yang berbeda pula. Sampai kadang terpikir sebaiknya pilih saja gunakan Busway lalu teruskan sisa perjalanan ke tujuan dengan Bajaj ! itu lebih pasti. Setidaknya Anda akan mendapatkan sensasi adrenalin yang ikut terpacu sekeras suara Bajaj itu sendiri.....




Selengkapnya.....