Aku dan Diabetes Mellitus Ku

Ketika pertama kali menyadari bahwa kadar gula dalam darahku mencapai 324, dhuar !! rasanya...... that's it. Everything is over. Kemudian semuanya menjadi masuk akal tentang kenapa, kenapa, kenapa di seputar diriku.
Bobotku yang gak naik-naik, walaupun porsi makan sudah banyak.
Mudah haus, walaupun sudah minum dua gelas besar es jeruk manis.
Mudah mengantuk, gak kenal situasi. Kalau mau tidur, ya tidur.
Gampang sariawan, dan gak sembuh-sembuh.
Sering kencing pada malam hari.
Kaki yang sering terasa pegal-pegal tanpa sebab dan tangan yang terasa kesemutan.

Akhirnya setelah ke Poli Gizi, aku ikut program diet ketat. Makan diatur, pakai takaran, menu makan sudah ditentukan. Akhirnya semua terasa hambar.

Hidup terasa berubah segalanya. Apalagi harus membiasakan diri dengan kentang rebus. Menjauhi sirup, coca-cola, cake.
Aku belajar mengkonsumsi Diabetasol. Namun karena harganya berubah, naik dua kali lipat, belakangan akhirnya aku pindah ke Susu Tropicana - Fitosterol.

Bobotku yang tadinya 76kilogram turun menjadi 66 kilogram.
Ukuran celana yang pernah mencapai 34, susut hingga 27.

Sungguh sebuah pukulan. Apalagi bila bertemu dengan kolega, kawan, rekan yang selalu saja memulai sapaan dengan kalimat " Kok, tambah langsing, kurus?" Pait.

Lalu mulailah petualangan di dunia obat-obatan herbal.
Nutrilite dari Amway.
Produk-produk Tianshi.
Jintan Hitam - Habatussaudah.
Extrak Sirih Merah dan Rottalen.
Produk Mellilea.
Disamping obat-obat yang diresepkan oleh dokter seperti Glibenclamid maupun Glucotika. Belakangan setelah diskusi dengan adik ipar yang seorang dokter, aku beralih ke Amaril 1mg dan mengikuti saran dokter keluarga aku menggunakan Metformin.

Seorang kawan lantas menyarankan aku untuk mencoba Wei Yi Xin, obat china.
Kini aku harus mempertahankan kadar gula darah berada dibawah 200. walaupun lebih sering berada di 230. Tetapi itu sudah lebih baik (mungkin). Ditambah keyakinan bahwa semua masih bisa dikendalikan termasuk kemampuan Si Otoy.

Hidup memang sudah ada garisnya. Seperti kenyataaan diri yang mendapat anugerah sejarah keturunan sebagai pengidap DB. Dan aku kini harus pula mengelola emosi, stres agar tidak memicu komplikasi dalam tubuh. Sampai kapan? wallahualam. Kepada Allah S.W.T aku berserah diri.







SocialTwist Tell-a-Friend

1 Comment:

Anonymous said...

semoga lekas sembuh mas...dan tetap tawakkal pada Allow, SWT ya...kesembuhan dan penyakit Alloh yang berkehendak...