Download Film Gratis

Dari beberapa alamat web yang saya dapat setelah browsing dengan google, ternyata Indowebster adalah alamat yang jadi rujukan saya untuk download film-film. khususnya Film Barat .
Ada beberapa trik dan syarat tersembunyi yang harus kita ikuti sebelum kita bisa mendownload file film yang nantinya akan kita tonton. Perlu sedikit "rasa ingin tahu" dengan beberapa istilah IT untuk memahaminya. Untuk beberapa file, terkadang kita juga harus menggabungkannya terlebuh dahulu menjadi satu file dengan tools seperti HJSplit ataupun FFSJ.
Setelah dapat film yang diinginkan, selanjutnya kita tentu perlu juga mendapatkan file text terjemahan yang biasanya tertera dibagian bawah film. Ada beberapa referensi. Dan ternyata www.subscene.com lah yang menjadi rujukan paling top untuk koleksi subtitle film-film yang akan kita download.
Sekali download, sebuah file film yang biasanya sebesar 400 hingga 800MB. Ini perlu waktu sekitar 2 jam untuk prosses download dengan kecepatan download 50-120kbps. Itupun saya harus menggunakan Internet Download Manager yang saya anggap paling handal untuk menghandle proses download.
Film sudah di download, subtitle sudah dapat. lantas yang tidak kalah penting adalah perangkat yang digunakan untuk "memutar film" hasil download itu. Secara kebetulan saya berkesempatan berkunjung ke negara sejuta inovatif : China. Dari sana akhirnya saya bisa mendapatkan Multimedia Player seharga 40 Yuan dengan merk Xungbo dari pabrikan Tongdaer type TH105S yang menjadi player setia untuk memutar film-film hasil download dari internet yang saya dapatkan. Perangkat ini jauh lebih murah dibandingkan perangkat sejenis yang dijual dan beredar di tanah air. Sebagai contoh sebuah perangkat Multimedia Player di Indonesia biasanya dijual seharga Rp.1.500.000,-. Lihat di web Bhinneka dan Glodokshop Bedanya, player yang saya beli ini kebetulan cuma tersedia dalam bahasa China !
Perangkat Tongdaer ini sudah dilengkapi dengan output HDMI untuk kualitas gambar yang sangat jernih. Saya memperolehnya sudah lengkap dengan kabel HDMInya. Tentunya untuk bisa menggunakannya juga diperlukan sebuah perangkat TV sebagai home entertainment yang sudah dilengkapi dengan input HDMI. Tetapi dengan output AV pun sebenarnya sudah cukup.
Lagipula bila belum ada multimedia player, cukuplah dengan menggunakan desktop komputer atau laptop sebagai playernya.
Hasilnya, banyak film - film bagus yang sudah bisa saya tonton tanpa harus hunting lagi ke toko-toko penjual VCD..
Setelah penasaran dengan "bagaimana cara download film-film secara gratis dari internet". Akhirnya berujung dengan keingintahuan apa itu Indowebster. Dan ternyata informasi itu saya peroleh dari Vivanews.

Selengkapnya.....

Avatar : Kearifan Alam, Jin, dan Canggihnya Teknologi Animasi

Minggu ini saya coba luangkan waktu dengan keluarga. Menikmati tontonan Film Avatar di Bioskop 21 Pasar Baru Square Balikpapan.



Yang luar biasa dari film ini adalah skrip yang sangat membumi. Mengangkat tema yang dekat dengan pelestarian hutan. Seperti yang dikisahkan dalam film ini, Avatar digambarkan sebagai kelompok makhluk yang menghuni sebuah pohon raksasa di dalam hutan yang disebutnya sebagai rumah pohon. Sampai kemudian sebuah kepentingan bisnis melihat bahwa di bawah pohon besar itu ada bahan tambang yang sangat bernilai dan perlu di eksplorasi.
Kemudian dengan berdasarkan pada data ilmuwan, diketahui pula bahwa kekayaan alam dan habitat di seputar pohon raksasa itu harus diperhatikan dan perlu untuk dipindahkan. Untuk itu perlu disusupkan mata-mata ke dalam kelompok Avatar supaya diperoleh cara untuk mengusir mereka dari pohon raksasa tersebut.
Mirip-mirip dengan kisah Suku Pribumi di pedalaman yang menempatkan jenis-jenis pohon tertentu sebagai sebuah sumber dan jaringan kehidupan, mereka menjaganya sebagai Dewa kehidupan.
Mirip-mirip pula dengan kebiasaan di Kampung, bila menebang pohon besar harus didahului dengan ritual "memindahkan sekelompok makhluk Jin yang dipercaya menghuni pohon besar itu". Bila itu tidak dilakukan maka malapetaka lah bagi si penebang pohon karena balas dendam dari penghuni pohon yang terusir dari rumahnya.
Kisah Avatar ini nampaknya terinspirasi setidaknya dari realita yang ada di kehidupan kita sehari-hari.

Ramuan teknologi animasi yang sangat canggih, membuat gambar-gambar yang tampil menjadi begitu indah dan alur cerita yang menyentuh. Luar biasa. Avatar lebih bagus ketimbang 2012.

Akhir kisah yang sama tragisnya dengan kisah penebang pohon yang "kesambet" penghuni pohon adalah ending yang mirip dengan kisah-kisah yang beredar umum di masyarakat kita.
Kemarahan Avatar terhadap keserakahan manusia yang mengeksplorasi hutan tanpa belas kasihan adalah fakta di kelestarian alam dan budaya pribumi kita, Khususnya di Pedalaman Kalimantan.

Two Thumbs Up deh buat Avatar.







SocialTwist Tell-a-Friend

Selengkapnya.....

Laskar Pelangi : Antara Novel, Film dan seleraku



Jujur saja aku nggak minat nonton film ini. Tidak minat bukan karena Judulnya, ceritanya, sutradaranya atau pengarangnya. Aku tidak minat hanya karena ini film Indonesia.
Sungguh, dirumah ada novelnya, orang di rumah yang beli. Aku sih tidak pernah baca... Jadi, saat diajak nonton filmnya di bioskop 21 yang ada di mall SCP-Samarinda, niatku malah mau tidur di dalam gedung bioskop. Sambil nunggu bedug buka puasa ......
Ternyata, ngantuk enggak, malah terbawa suasana jadul. Ingat sekolahku dulu SD Muhammadiyah 1 Samarinda. Walaupun nasib sekolahnya berbeda, tetapi dinding dan bangunan sekolah yang terbuat dari kayu bikin aku ingat masa-masa di sekolah itu.
Mengikuti alur ceritanya, aku malah berkesimpulan : ternyata bangsaku ini gobloknya tidak habis-habis. Setting film itu jelas jadul sekali. Ya, sampai sekarang keadaan seperti itu masih ada kok dimana-mana di bumi Indonesia ini. Timpang antara satu dan lain masih saja terjadi di dunia pendidikan. Sepertinya bangsa kita tidak mengijinkan bahwa menjadi orang pintar, adalah hak semua orang. Tetapi kekuasaan yang bergelimang uang-lah yang bisa membuat orang pintar.
Selama nonton film ini, banyak orang mungkin malah berlinangan air mata. Ingat profesinya sendiri sebagai guru, kali.
Oke, bedug, tuh.... buka puasa aja dulu. Besok-besok kalau ada film Indonesia lagi, yang dekat-dekat dengan realita... nonton lagi, ah.

Selengkapnya.....