the Illustrations of our Prophet from Wikipedia

Lagi-lagi karena iseng blogwalking.

Ceritanya saya mulai dari kata "blogger indonesia" di Google Search Engine. Lalu tiba di http://komunitas.muslimblog.net/ dan dari situ saya masuk ke Republik Blog sebagai salah satu kontributor. Dari sinilah cerita ini dimulai.
Salah satu postingnya berjudul Petisi Online Untuk Menghapus Gambar Nabi Muhammad di Wikipedia yang diposting tanggal 07 Februari 2008 - dua bulan yang lalu. Kemudian dengan mengikuti jejak yang dibuat siempunya blogger, sampailah saya di The Petition Site .
OK. kita check, ada berapa banyak orang Indonesia yang ikut petisi disini. Ternyata dari banyak suku bangsa yang tercatat disitu, sungguh sulit menemukan petisi dari orang Indonesia diantara 429.456 petisi yang di post (per 01 April 2008). Yang ditemukan cuma 1-2 saja. Kemana bangsa kita ini? jelas sekali ada sebuah situs yang melakukan tindakan yang offensif terhadap muslim. Toh, masyarakat kita tidak bereaksi apapun.

Foto aksi massa diatas saya ambil dari Harian Kaltim Post (01/04/08). Seolah-olah bagaikan telah menonton film Fitna lalu mereka paham benar dengan apa yang sebenarnya sedang diperbuat. Hampir yakin saya bahwa sebagian besar sebenarnya tidak tahu apa-apa. Sama tidak tahunya dengan situs Wikipedia yang (katanya milik Yahudi) memuat gambar Nabi Muhammad.
Kita maklumi saja seperti yang disampaikan Menkominfo bahwa pengguna internet di Indonesia hanya berkisar 25 juta orang saja (www.indonesia.go.id). Itupun masih harus dipilah, antara yang ber-internet dan sering browsing, sering main game online atau sibuk cari situs porno. The petition site sepertinya hanya satu sample saja untuk sebuah pembuktian betapa minimnya kemampuan akses sumber-sumber berita melalui internet yang bisa dilakukan oleh bangsa kita.
Sekalipun nantinya pada bulan Mei "akan ada lompatan pengguna internet menjadi 50 juta orang", bisa diyakini itu hanya terjadi melalui akses-akses internet yang sangat terbatas di sekolah-sekolah. Dan seperti halnya juga yang sudah pernah terjadi di fasilitas internet di kantor-kantor pemerintah, pemblokiran situs-situs tertentu yang sekedar blokir malah menambah persoalan dengan ikut terblokirnya situs-situs penting lainnya. Sehingga fasilitas itu malah menjadi sarana yang lebih sering menjengkelkan daripada menyenangkan.
Kalau peristiwa gambar Nabi Muhammad di Wikipedia itu bisa berlalu begitu saja, lalu pertanyaannya dari mana rombongan Tukang Demo itu sepakat untuk ribut di jalan memprotes si anak penjajah yang pikirannya kusut itu? Kesimpulan sementara, sepertinya sebagian masyarakat kita masih sangat mudah dihasut ya? Mungkin malah hanya dengan OMDO alias omong doang sudah bisa diajak ribut.
Tindakan cepat yang dilakukan dengan mencekal Geert Wilders untuk tidak bisa datang ke Indonesia serta demo yang awut-awutan itu malah menghasilkan pandangan berbeda : Bukankah Blondie sontoloyo itu memang tidak akan bersedia datang ke Indonesia? Ini akan sangat berbeda hasilnya jika kita malah mengundangnya untuk datang langsung ke Indonesia, mengajaknya berkunjung ke Pesantren-Pesantren, menonton film itu bersama-sama dan berdiskusi dengan para Ulama kita, lalu melalui MUI menyampaikan hasilnya ke masyarakat kita yang -apa boleh buat- masih jauuuuuuuuuuuuuh dari urusan internet. Ngapain mau memblokir situsnya segala? mending biayanya dipakai saja untuk memblokir sarang prostitusi yang banyak bertebaran di Bumi Pertiwi. Kalau si rambut jagung itu tetap ogah datang memenuhi tantangan datang ke Indonesia, kita anggap saja dia terlalu sibuk dengan bisnis Cafe Narkoba dan bisnis prostitusinya yang memang dilegalkan di negeri Belanda itu.
Mungkin kita sudah terlalu terinspirasi dengan gaya-gaya mahasiswa yang kehabisan musuh. Ribut dengan kawan sekampus, ribut dengan aparat keamanan, ribut dengan pemerintah. Tapi tak kunjung pandai membuat negeri ini menjadi lebih baik.