Berangan-angan Main Listrik Angin-anginan

(http://prasasto.blogspot.com)

Ini saya copy paste dari (http://www.alpensteel.com/article/47-103-energi-angin--wind-turbine--wind-mill/767--pltb-11-unit-dibangun-dalam-2-tahun.html)


Meningkatnya kebutuhan listrik diluar Pulau Jawa, pemerintah akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu atau Angin (PLTB) sebanyak 6 unit pada tahun ini dan tahun 2008 sebanyak 5 unit ditahun 2008 melalui anggaran APBN.

Pembangunan 5 unit PLTB yang akan dibangun tahun depan dimana investasi setiap unitnya Rp 15 Milyar sehingga total dana yang dikeluarkan Rp 75 Milyar" kata Dirjen Listrik dan Pemanfaatan energi Departemen ESDM, J Purwono pada saat raker dengan Komisi VII di gedung DPR, Jakarta (17/9/2007) seperti yang dilansir oleh detik.com

Kapasitas masing-masing pembangkit Listrik itu berkapasitas 200 KWH yang akan di bangun tiga di Maluku dan dua di Sulawesi Utara.

Untuk tahun ini pemerintah menganggarkan Rp 24 milyar untuk membangun 6 unit PLTB yang dibangun di Sulawesi Utara dua dan emapt di bali. kapasitas dari masing-masing pembangkit 80 KWh. Pengelolalan dari PLTB ini setelah selesai oleh Pemda setempat dan hasilnya dijual ke PLN.

Menurut Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi harga listrik dengan menggunakan PLTB ini dua kali lebih mahal sekiar 4,5 $ sen per KWh.

Selanjut Dirjen juga mengungkapkan pengusaha dari Amerika dan Jerman berminat untuk membangun PLTB di Indonesia. Sebenarnya telah tertarik bebrapa tahun lalu tapi dengan adanya krisis yang terjadi di Indonesia baru sekarang dimulai lagi.

Pengusaha swasta sekarang ini telah mulai melalukan studi kelayakan untuk pembangunan PLTB. Daerah-erah yang mempunyai potensi besar adalah Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Maluku. Daerah-daerah ini mempunyai potensi angin yang bagun untuk dibangun pembangkit ini.

Pembangunan PLTB membutuhkan investasi 1500 USD - 2000 USD per KWh. Pemerintah mengharapkan pada tahun 2008 swasta telah mulai membangun PLTB.

di web (http://www.alpensteel.com/article/47-103-energi-angin--wind-turbine--wind-mill/795--pembangkit-listrik-tenaga-angin-menjadi-solusi.html) dikatakan pula :
Solusi yang paling memungkinkan untuk diterapkan saat ini di Indonesia adalah Pembangkit Listrik Tenaga Angin. (PLT Angin). PLT Angin ini pada prinsipnya memanfaatkan angin yang tersedia di alam. PLT Angin mengkonversikan energi angin menjadi energi listrik dengan menggunakan turbin angin atau kincir angin. Energi angin yang memutar turbin angin, diteruskan untuk memutar rotor pada generator dibagian belakang turbin angin, sehingga akan menghasilkan energi listrik. Energi Listrik ini akan disimpan kedalam baterai sebelum dapat dimanfaatkan. Ini dilakukan untuk menstabilkan keadaan listrik yang terpengaruh saat kecepatan angin berubah-ubah. Angin yang dapat dimanfaatkan untuk PLT Angin ini adalah angin yang termasuk pada kelas angin nomor 3(berkecepatan 12-19,5 km/jam) sampai dengan kelas angin nomor 8 (berkecepatan 61,6-74,5 km/jam). Kelas angin nomor 3 dapat ditandai dengan adanya asap bergerak mengikuti arah angin dan kelas angin nomor 8 ditandai dengan ujung pohon melengkung, dan hembusan angin terasa di telinga.

Negara Indonesia adalah negara kepulauan yang 2/3 wilayahnya adalah lautan dan mempunyai garis pantai terpanjang di dunia yaitu ± 80.791,42 Km merupakan wilayah potensial untuk pengembangan pembanglit listrik tenaga angin. PLT Angin dapat dimaksimalkan pemberdayaannya disekitar pantai di Indonesia. Namun, tidak semua pantai dan daerah dapat dijadikan PLT Angin, karena perlu dipilih daerah yang memiliki topografi dan keadaan angin yang stabil. Sampai saat ini, kapasitas total yang terpasang diseluruh Indonesia kurang dari 800 kilowatt. Terdapat lima unit kincir angin pembangkit listrik berkapasitas 80 kilowatt yang sudah dibangun. Pada tahun 2007 yang lalu, telah ditambah tujuh unit kincir pembangkit berkapasitas sama di empat lokasi, yaitu Pulau Selayar, Sulawesi Uutara, Nusa Penida,Bali, serta Bangka Belitung.

Selain digunakan di daerah pesisir pantai, PLT Angin juga dapat digunakan di daerah pegunungan dan daratan. Saat ini kapasitas total pembangkit listrik yang berasal dari tenaga angin untuk Indonesia dengan estimasi kecepatan angin rata-rata sekitar 3 m/s / 12 Km/jam, 6.7 knot/jam turbin skala kecil lebih cocok digunakan, di daerah pesisir, pegunungan, dataran.. Salah satu daerah yang cocok untuk dijadikan PLT Angin adalah daerah Sidrap.Daerah ini memiliki topografi yang menunjang, datarannya luas dan memiliki kecepatan dan stabilitas angin yang ideal. Selain untuk pembangkitan listrik, turbin angin sangat cocok untuk mendukung kegiatan pertanian dan perikanan, seperti untuk keperluan irigasi, aerasi tambak ikan, dan sebagainya.

Bagaimana di Balikpapan?
Dalam (http://www.alpensteel.com/article/47-103-energi-angin--wind-turbine--wind-mill/892--rata-rata-kecepatan-angin-di-indonesia.html) dikatakan :
Rata-rata secara global kecepatan angin di darat adalah sekitar 30 - 40 km/jam. akan tetapi kecepatan rata2 angin di daratan sangat tergantung pada dimana kita mengukur kecepatan angin tersebut dan kapan kita melakukan pengukuran. sebagai contoh wilayah Indonesia bagian Timur seperti NTT, NTB, Sulsel dan pantai selatan Jawa mempunyai kecepatan angin rata-rata yang cukup tinggi yaitu 5 m/s, sementara di indonesia bagian barat cenderung lebih rendah dari nilai tersebut.

Untuk pengukuran kecepatan angin yang lebih baik memang dilakukan pada ketinggian 10 m, dengan pertimbangan efek dari lapisan perbatas dan korelasi eddy sudah tidak mempengaruhi kecepatan angin lagi. tapi rata2 stasiun cuaca, terutama di Indonesia melakukan pengukuran pada 0,5 m hingga 2 m. Sebagian besar stasiun cuaca bahkan mengambil nilai tengahnya dengan menempatkan anemometer dalam sangkar cuaca yang berketinggian 1,2 m.

Tidak ada satupun artikel yang bisa saya temukan menyebutkan bahwa Kota Balikpapan berada dalam kategori daerah dengan kecepatan angin seperti disebutkan diatas. Mungkin ada data dari BMG lokal balikpapan yang bisa mendukung keinginan beberapa pihak untuk mengembangkan pemanfaatan PLTB di Balikpapan?
eh, sebenarnya teknologi apa sih yang akan dikembangkan untuk PLTB di Balikpapan? coba deh simak http://www.forumbebas.com/thread-81256.html, disana disebutkan bahwa Pada 8 Juli 2009 lalu AWEA (American Wind Energy Association) membuat laporan mengenai seluruh kincir angin yang ada di Amerika. Laporan itu menyebutkan bahwa 20% dari seluruh energi yang digunakan di seluruh negeri itu dihasilkan dari tenaga angin. Selain mendapatkan data spesifik tentang pasokan listrik tenaga angin mereka juga merilis 10 kincir angin terbaik berdesain canggih.

Saya jadi teringat tahun 2007 lalu, ketika masih intens bertemu dengan Bapak Sugiek Sajagi, seorang ahli di urusan elektronika. Sampai satu saat ia memutuskan untuk ikut mengembangkan Kincir Angin mini yang kemudian melalui Lomba Teknologi Tepat Guna berhasil menarik berita secara nasional (http://osdir.com/ml/org.region.indonesia.mahawarman/2008-05/msg00007.html)
Nih, berita lengkapnya :
KOMPAS/AMBROSIUS HARTO / Kompas Images
Sugiek Sajagi, Jumat, 22 Februari 2008 | 02:15 WIB
Oleh Ambrosius Harto

Jakarta dan sekitarnya baru satu-dua hari merasakan pemadaman listrik. Tetapi, daerah-daerah lain sudah lama merasakan hal itu. Bahkan, pemadaman listrik itu telah membuat frustrasi warga Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Pasalnya, keadaan itu sudah berlangsung bertahun-tahun dan belum bisa diselesaikan.

Sebagian warga bosan karena barang-barang elektronik rusak, atau mereka mesti bolak-balik beli solar untuk menghidupkan generator set. Sugiek Sajagi pun gelisah karena krisis listrik yang tak kunjung teratasi. Menunggu perbaikan dari pemerintah dianggapnya cuma membuang waktu. Dia lalu bereksperimen dan berhasil membuat kincir angin untuk membangkitkan listrik.

Kincir yang mirip baling-baling pesawat itu bukan dibuat di laboratorium dengan peralatan canggih. Dia membuatnya di bengkel kerja yang sekaligus menjadi rumahnya. Dalam bangunan berdinding kayu itu, televisi, radio, dan sirkuit elektronik menumpuk.

”Sudah lama saya menjadi tukang memperbaiki barang elektronik,” kata Sugiek, pria yang meraih juara ketiga pada Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional IX 2007 itu

Inspirasi Sugiek membuat kincir berawal dua tahun lalu. Suatu malam mantan kru kapal laut ini menggenjot sepeda yang lampunya menyala. Dia tahu tenaga (listrik) untuk menyalakan lampu itu berasal dari putaran dinamo akibat kayuhan kaki.

”Kalau begitu, selama ada dinamo dan pemutar, listrik bisa dihasilkan,” ujar Sugiek.

Lelaki ini pun bereksperimen dan lahirlah ide membuat pembangkit listrik yang digerakkan hewan. Sugiek memang memelihara beberapa kambing untuk dijual.

Percobaan yang dilakukannya berhasil meski daya listrik yang dihasilkan kecil. Lagi pula, percobaan dengan menggunakan kambing dirasakannya tak manusiawi. ”Kambing saya jadi enggak bisa jalan lurus, cuma muter-muter terus,” katanya.

Sugiek kembali memutar otak dan lahirlah ide membuat kincir angin. Dia terinspirasi gambar kincir angin di Belanda dan baling-baling pesawat. Kincir dan baling-baling ketika berputar akan menghasilkan energi gerak. Energi itu bisa digunakan memutar generator listrik.

Ide itu direalisasikan dengan eksperimen swadaya. Sugiek membeli dinamo yang mampu berputar 1.500 kali per menit (rpm), baterai (aki) untuk menampung daya listrik, roda pemutar, potongan fiberglass untuk membuat kincir atau baling-baling, dan kabel.

Hasilnya, pada putaran ke-750 dinamo menghasilkan energi yang dapat diserap baterai. Dalam dua jam baterai penuh dan menghasilkan daya listrik 1.500 watt. Daya itu cukup untuk menyalakan televisi, kulkas, mesin cuci, komputer, dan kipas angin sekaligus selama empat jam. Selama kincir berputar, aki otomatis bisa terus menyerap energi

Kreasi Sugiek itu diminati sebagian penduduk Balikpapan. Dalam kurun dua tahun, ia menjual lebih dari 40 kincir kepada penduduk dan beberapa rumah sakit. Keuntungan dari penjualan kincir lalu dia pakai untuk biaya hidup sehari-hari dan bereksperimen lagi.

”Duit saya lebih banyak habis untuk eksperimen bikin benda ini, bikin barang itu, ha-ha-ha,” tutur pria yang menjual kincir anginnya seharga Rp 15 juta-Rp 20 juta per unit, tergantung kemampuan dinamonya itu.

Ia berusaha berpegang pada prinsip bahwa temuan-temuan yang dia hasilkan harus bermanfaat dan mampu menolong warga yang kesulitan.

Selain kincir, ia juga memodifikasi kacamata hitam dari plastik untuk membantu memulihkan penglihatan yang kabur. Dia menembak kacamata itu dengan laser sehingga ada belasan lubang kecil. Selanjutnya, kacamata itu disinari inframerah selama beberapa jam.

”Lubang-lubang dan kandungan inframerah membantu mata bisa melihat dengan lebih enak,” ujar Sugiek. Kacamata hasil modifikasinya itu telah dijual hingga Surabaya (Jawa Timur) dan Semarang (Jawa Tengah).

”Kegilaan” bereksperimen terkait dengan lika-liku hidupnya. Lulus sekolah menengah pertama pada 1958, Sugiek pergi ke Jember, Jatim, dan belajar di Sekolah Teknik Menengah dr Soebandi. Di kota itu ia indekos di rumah Kepala SMA Negeri 3. Dia juga mengajari anak pemilik rumah pelajaran aljabar dan elektronik. Sebagai ”imbalan”, Sugiek boleh belajar di SMA Negeri 3.

Selepas SMA, lelaki yang bisa berbahasa Belanda, Perancis, Inggris, Jerman, Spanyol, dan Jepang ini sempat kembali ke Balikpapan selama setahun. Namun, keinginannya belajar masih menggebu. Sugiek lalu pergi ke Jakarta dan menuntut ilmu di ATN/STTN (kini Institut Sains dan Teknologi Nasional).

”Di STTN saya tidak lulus-lulus, malah berantem sama dosennya,” kenang Sugiek yang suka ”berkeliaran” di Pelabuhan Tanjung Priok dan secara tak sengaja terbawa kapal hingga ke Amerika Serikat.

Selama di kapal ia memperdalam ilmu elektronik dari teknisi kapal. Dia jadi tahu bagaimana cara memperbaiki radio panggil hingga radar. Sesampai di AS, Sugiek ”terdampar” dan tinggal di San Ramon, California, selama lima tahun.

Di Negeri Paman Sam itu, ia sempat bersekolah untuk menambah pengetahuan di bidang teknologi. Ketika kembali ke Indonesia pada 1972, dia semakin tenggelam dengan teknologi. Berbagai pekerjaan sebagai teknisi dijalaninya. Sugiek pernah menjadi teknisi perusahaan minyak dan gas bumi, ”tukang” memperbaiki pesawat terbang, kapal laut, sampai radar.

”Entah mengapa, tetapi saya tetap merasa kurang sreg dengan berbagai pekerjaan itu. Saya memutuskan berhenti ’ikut orang’ tahun 1980,” katanya.

Berbekal tabungan bekerja selama beberapa tahun dan keahlian yang dimilikinya, dia lalu membuka bengkel di Jalan Cendrawasih, Kelurahan Muara Rapak, Kecamatan Balikpapan Utara, sambil terus bereksperimen menciptakan barang-barang yang bermanfaat.

Selain pembangkit listrik tenaga angin dan kacamata inframerah yang laku di pasaran, Sugiek antara lain juga menciptakan pembangkit listrik tenaga air dan perahu dengan tenaga sinar matahari. Belakangan, dia juga membuat alat pengusir nyamuk, kecoa, dan tikus yang berbentuk seperti ponsel bertenaga listrik. Alat yang terakhir dia ciptakan itu hak ciptanya dia jual kepada sebuah perusahaan Korea.

Adakah semua ciptaannya itu dipatenkan? ”Malas, prosesnya rumit dan lama. Biar saja ditiru orang lain, asalkan bermanfaat buat masyarakat,” jawab Sugiek yang masih berusaha membuat kincir yang berharga lebih terjangkau, sekitar Rp 7 juta.

See?...... yang kita butuhkan sesungguhnya adalah investor yang mau mengembangkan teknologi ini dengan berinvestasi di Balikpapan..... dan menjual produknya keluar Balikpapan.... bukan dijejalkan untuk Balikpapan...