Laskar Pelangi : Antara Novel, Film dan seleraku



Jujur saja aku nggak minat nonton film ini. Tidak minat bukan karena Judulnya, ceritanya, sutradaranya atau pengarangnya. Aku tidak minat hanya karena ini film Indonesia.
Sungguh, dirumah ada novelnya, orang di rumah yang beli. Aku sih tidak pernah baca... Jadi, saat diajak nonton filmnya di bioskop 21 yang ada di mall SCP-Samarinda, niatku malah mau tidur di dalam gedung bioskop. Sambil nunggu bedug buka puasa ......
Ternyata, ngantuk enggak, malah terbawa suasana jadul. Ingat sekolahku dulu SD Muhammadiyah 1 Samarinda. Walaupun nasib sekolahnya berbeda, tetapi dinding dan bangunan sekolah yang terbuat dari kayu bikin aku ingat masa-masa di sekolah itu.
Mengikuti alur ceritanya, aku malah berkesimpulan : ternyata bangsaku ini gobloknya tidak habis-habis. Setting film itu jelas jadul sekali. Ya, sampai sekarang keadaan seperti itu masih ada kok dimana-mana di bumi Indonesia ini. Timpang antara satu dan lain masih saja terjadi di dunia pendidikan. Sepertinya bangsa kita tidak mengijinkan bahwa menjadi orang pintar, adalah hak semua orang. Tetapi kekuasaan yang bergelimang uang-lah yang bisa membuat orang pintar.
Selama nonton film ini, banyak orang mungkin malah berlinangan air mata. Ingat profesinya sendiri sebagai guru, kali.
Oke, bedug, tuh.... buka puasa aja dulu. Besok-besok kalau ada film Indonesia lagi, yang dekat-dekat dengan realita... nonton lagi, ah.