Tahu di tengah hutan


Bicarakan kedelai lagi? ah, bosan... wong cuma cara impornya saja yang diperbaiki.
Ini tentang perjalanan di poros Balikpapan-Samarinda. Setidaknya di kilometer 50, disitu sebuah rumah makan berdiri saling berhadapan berseberangan jalan. Rumah Makan TAHU SUMEDANG.
Entah sudah berapa kali aku mampir. Saban ke Samarinda atau sebaliknya aku mampir, sekedar beli Tahu Sumedang, arem-arem, nanas goreng, dadar jagung goreng, tempe goreng... Atau malah cuma numpang buang air kecil saja. Setiap mampir, tukang parkirnya sigap memberi aba-aba di tempat parkir yang cukup untuk menampung 50 buah mobil dan itupun sering kelihatan penuh.


Iseng-iseng, sambil menunggu antrian beli Tahu Sumedang, penah kucoba menghitung tingkat kedatangan dan kepergian mobil yang singgah. Setidaknya tiap 10 menit ada mobil yang mampir dan ada mobil yang pergi. Dalam satu mobil yang rata-rata berisi lebih dari 1 orang itu kalo tidak mampir makan, ya sekedar beli Tahu Sumedang tadi.Sepertinya rumah makan ini sedang menjalankan bisnis yang sukses..... Dan modalnya, daya tariknya, ya, tahu itu tadi.

Hanya jual....... tahu di tengah hutan.

Rumah makan ini ada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Bukan main. Kabupaten kaya dengan PAD besar yang ditunjang warga wirausahawan kreatif gini pasti kombinasi yang luar biasa. Mestinya begitu.
Selepas dari Rumah Makan Tahu Sumedang ke arah Samarinda, setidaknya aku menemui 3 ruas jalan yang oleh penduduk sekitarnya diberi penghambat kecepatan yang dikibar-kibarkan berupa jala yang dibuat kerucut dengan tepi diberi kawat melingkar. Itu alat penangkap uang. Penduduk sekitar situ rupanya sedang sibuk membangun tempat ibadah. Butuh dana yang lumayan besar rupanya.
Bukan main. Kabupaten kaya dengan PAD besar yang ditunjang warga yang semangat beribadahnya tinggi gini pasti kombinasi yang luar biasa. Mestinya begitu.
Atau sesungguhnya yang terjadi malah bukan begitu?
Jangan-jangan Rumah Makan tadi hanya milik seorang pendatang yang punya semangat juang luar biasa dan pandai membaca peluang. Sebab, kalau dilihat karyawan yang bekerja disitu kelihatannya "bukan wajah orang sini" dan logatnya-pun bukan logat kebanyakan orang-orang disini. Apalagi menu jajanannya....... apalagi jenis bahan bakunya......
Jangan-jangan penduduk yang sibuk membangun rumah ibadah dengan mengharap sumbangan dari pengguna jalan itu adalah penduduk yang hanya tidak tahu harus kemana berharap dukungan dana untuk membangun rumah ibadahnya. Sebab kalau tahu kan tidak harus dengan bertaruh nyawa ditengah jalan. Apalagi kalau Pemkabnya tahu..... apalagi kalau pejabat Pemkab yang ngurusi masalah-masalah sosial tahu......
Bukan main. Kabupaten kaya dengan PAD besar yang ditunjang dengan pejabat yang peka terhadap kebutuhan rakyatnya pasti kombinasi yang luar biasa. Mestinya begitu.
Atau nyatanya semua tidak begitu?
Pemkabnya tidak tahu kalau pejabatnya tidak tahu bahwa warganya tidak tahu dan terpaksa bertaruh nyawa untuk membangun rumah ibadah karena tidak tahu bahwa seharusnya ada dana sosial yang tersedia di kas Pemkab yang bisa untuk membantu pembangunan rumah ibadah mereka.

Mungkin, memang sulit menjadi orang yang..... tahu di tengah hutan....