Pernahkah Meteran Listrik di Tera?

Setiap kali kita mengisi bahan bakar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), otomatis pandangan mata kita arahkan ke meteran mesin pengisi, bukan karena ingin tahu meterannya muter atau tidak tetapi pasti kurang yakin saja apakah petugasnya benar-benar memulai pengisian dari nol, apakah petugasnya mengakhiri pengisian sesuai dengan jumlah uang yang kita keluarkan. Syukur-syukur kalau petugasnya lalai mengisinya malah kebablasan atau kebanyakan. Padahal, yakin tidak ada lagi meteran di SPBU yang lolos dari tera oleh Badan Metrologi. Apalagi saat ini sudah terjadi kompetisi dengan masuknya operator pengecer bahan bakar seperti Shell dan Petronas di Indonesia. Pertamina melalui SPBU sibuk kampanye PASTI PAS. Pelayanan yang ramah, informasi yang transparan dan tera ulang selalu tepat waktu.
Mungkin hal yang sama juga berlaku pada meteran gas yang dikelola oleh Perusahaan Gas Negara. (Halo, orang Kalimantan yang kaya akan gas alam, sudahkah anda nikmati fasilitas gas langsung ke rumah, seperti yang dinikmati oleh warga di Bogor? mati di lumbung padi lah kau). Atau bisakah kita bayangkan PLN melakukan hal yang sama? Bisakan PDAM atau apalah namanya dilain daerah juga melakukan tera pada meteran airnya?
Sungguh memalukan kalau sebuah Perusahaan Negara memberikan pernyataan bahwa orang Balikpapan - seperti yang disebut di koran-koran belakangan ini - paling boros dalam menggunakan listrik se Kalimantan Timur. WTF, apa salahnya sih orang Balikpapan beli setrum?
Justru orang Balikpapan mungkin seharusnya saat ini sedang hemat-hematnya. Karena PLN yang pantas dimaki-maki itu tidak mampu memberikan pelayanan terbaiknya. Listrik mati hidup cuma dijawab pakai jadwal pemadaman listrik. Belakangan malah disuruh lihat jadwal pemadaman melalui websitenya. Wong listriknya mati, kok disuruh lihat lewat internet. Warga Balikpapan sudah berbulan - bulan harus melewati jalan raya di malam hari dalam kegelapan. Itu karena PLN tak mampu lagi menghidupi lampu jalanan yang dibayar pajaknya oleh Pemerintah setempat.
Sudah lama aku merasa membayar listrik kebanyakan. Bukan isapan jempol kalau pernah pula rekening listrikku membengkak secara tidak rasional. Itu harus dikomplain. Makan waktu makan tenaga. Untuk kondisi seperti itu akhirnya terbersit pula dalam fikiranku : bagaimana jika seharusnya dimulai saja dengan tera ulang semua meteran listrik yang ada di Kota Balikpapan. Jika itu sudah dilakukan, dan ternyata tidak diketemukan satupun meteran sialan yang merugikan pelanggan. Barulah bikin pernyataan bahwa pelanggan boros!! Cara berbisnis yang aneh. Kenapa tidak dibalik saja dengan pernyataan semua pelanggan di luar Kota Balikpapan telah melakukan pencurian listrik!! Hanya pelanggan di Kota Balikpapan lah yang jujur. Hanya pelanggan Balikpapan yang tertib bayar listrik sehingga nilai tunggakannya paling sedikit se Indonesia. Saking tertibnya, setiap bulan ruas jalan A.Yani depan Kantor Kandatel macet. Karena masyarakat yang antri bayar listrik di loket PLN yang jauh dari representatif itu. Jadi bukan karena boros, tetapi justru karena tertib, itulah penyebab mengapa penggunaan listrik di Kota Balikpapan paling banyak.
Kalau diingat - ingat, rasanya saban hujan, listrik ikut mati. Apa ini bukan pertanda bahwa sistem jaringan listrik PLN itu sebenarnya semrawut. rawan petir, trafonya sering overload hingga meledak, kabelnya gampang dicuri.
Kenapa PLN tidak memulainya dari dalam diri sendiri dulu.
Tera dulu meteran PLN, benahi dulu suplay listrik PLN. Baru mencela.
Atau, sudah saja buat regulasi. Operator listrik swasta berhak masuk.