Pengemasan

Dasar Teknologi Pengemasan

Proses akhir dari pengolahan bahan pangan sebelum produk sampai kepada konsumen adalah dengan melakukan pengemasan. Dasar dari teknologi pengemasan adalah bagaimana produk bisa sampai pada “pemakai/konsumen” dengan “baik” dalam arti “ menarik” perhatikan mulai desain (bentuk, paduan warna), aroma, rasa dan harga?
Menyangkut masalah desain, tidak terdapat kesamaan warna terhadap berbagai tingkatan usia calon pembeli. Warna merah pada umumnya digemari oleh usia anak-anak, sementara warna kuning adalah transisi antara anak-anak dengan mulai remaja. Hijau muda, merah delima, hijau adalah warna idola mereka yang mulai minginjak remaja. Biru, coklat bagi remaja hingga dewasa. Abu-abu, ungu, hitam, puti untuk kalangan dewasa hingga tua.
Bentuk biasanya disesuaikan dengan tingkat profesi/pendidikan dan bahkan ekonomi konsumen (bahkan kadang-kadang juga berinteraksi dengan rasa, dan warna bahkan harga). Selain yang telah disebutkan diatas dasar pengemasan berhubungan dengan mempertahankan mutu hasil pengawetan hingga ditangan konsumen adalah mengantisipasi unsur-unsur serta kemungkinan bisa hidupnya mikroorganisme dengan berbagai manifestasinya. Oleh karena itu sebagai dasar pemikiran teknologi pengemasan adalah bagaimana produk/hasil dari mesin-mesin pengawetan sesampainya pada konsumen bisa bebas dari mikroba dengan kaitan hal itu yang dimaksud untuk produk awetan perlu diisolir dari :
  • Kontaminasi dengan udara luar/angin ataupun air, sebab udara selain ada kadar airnya bisa memindahkan mikroba, dan air bisa memindahkan maupun menyuburkan pertumbuhannya. Ikut campur tangannya insek/ serangga karena disamping pada tubuhnya bisa terbawa bakteri, juga memakannya.
  • Sinar, terlebih ultra violet yang bisa menimbulkan jamur atau menstimulan bahan mikroba. Beban-beban luar dalam bentuk mekanis maupun panas, karena bisa menghancurkan bahan, rusaknya bahan merupakan bahan untuk tumbuh suburnya mikroba. Asam-asam keras, serta garam-garaman racun karena selain bisa meracuni pemakai, pada batas-batas tertentu justru bisa memacu pertumbuhan mikroba.

Bahan Kemasan

Bahan kemasan pada dasarnya adalah untuk memperhatikan butir-butir yang telah disebutkan di atas dar 1-5. Oleh karena itu bahan kemasan dipilih untuk mengantisipasi terdapatnya mikroba di dalam maupun pada produk awetan pangan.
Oleh karena tuntutan biaya (biaya bahan kemasan maupun proses pengemasannya sendiri) maka ukuran tebal/tipisnya bahan kemas menjadi kendala yang harus diperhitungkan agar jatuh harganya dipasar tidak terlalu tinggi walaupun dengan maksud yang sama. Karenanya teknik dan bahan kemasan yang dipilih harus benar-benar “sesuai” sekaligus optimal (secara teknik efektif, dan secara ekonomis masih efisien) dengan “bahan awetan” yang disajikan kepada pemakai. Berdasarkan kendala-kendala diatas, maka bahan kemasan awetan pangan seyogyanya mempunyai sifat-sifat di antaranya :
  • Mempunyai kemampuan penghantaran serta penyerapan/penerusan panas atau listrik yang rendah (diidealisasikan = 0).
  • Mampu menangkal keluar masuknya uap air maupun udara (berarti harus rapat dan tidak bocor).
  • Mempunyai kemampuan mengembalikan sinar yang datang dari luar.
  • Mampu menangkal beban-beban mekanis (oleh karena getaran-getaran, mesin, maupun manusia) misalnya diberikan bantalan-bantalan yang biasanya dari bahan-bahan yang porous (gabus, jerami, gas, kapas,dll).

Teknik Pengemasan

Dalam teknologi proses pengolahan pangan tidak bisa dilepaskan antara bahan/produk/hasil pengawetan, bahan kemas dengan teknik pengemasannya sendiri. Padahal untuk mencari bahan kemasan yang “maksimal baik” itu tidak ada. Maksimum yang bisa dicapai dalam pengemasan adalah yang “optimal”, sebab bahan yang bisa memantulkan kembali sinar yang datang (misalnya ternyata tidak nol kemampuan penghantaran panas/listriknya (misalnya aluminium), karenanya suhu atmosfir (udara luar) betapapun juga akhirnya bisa menerobos (karena aluminium adalah konduktor) masuk hingga produk awetan. Hanya udara luar memang tidak bisa masuk.
Teknik penyambungan/pengikatnya dilakukan dengan las tahanan (jenis las proyeksi). Juga betapapun lamanya bahan/produk awetan akhirnya bisa menjadi rusak (kadaluarsa, dan kurang aman bila dikonsumsi). Oleh karena itu setiap produk awetan yang dikemas harus bisa dijamin hingga kapan (tanggal, bulan, tahun) bisa dipakai/dikonsumsi.